# [Tama's] Tracklist Dashboard Task Section 1
:::info
Open Recruitment Mobilecomm Lab [Celullar Network Division 2023/2024].
:::
## :book: Tama's Information
:::success
List the essential information of me.
:::
### :small_blue_diamond: Name : Arya Pratama
### :small_blue_diamond: Email : wannabeyourboys@gmail.com
### :small_blue_diamond: NIM : 1101210443
---
## 1. Standardization (Telecom)
Standarisasi sistem telekomunikasi dilakukan oleh lembaga yang secara khusus menangani masalah-masalah yang terkait telekomunikasi. Adanya standar tersebut adalah untuk mengatur sistem telekomunikasi, baik yang menyangkut penggunaan frekuensi, alokasi, kanal, perangkat dan lain-lain. Pengaturan itu dimuat dalam bentuk perundang-undangan.
### 1.1 Badan atau Organisasi Standarisasi Telekomunikasi
1. ITU (International Telecommunication Union).
2. ISO (International Standardization Organization)
3. IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers)
4. ANSI (American National Standards Institute)
5. TIA (Telecommunications Industry Association)
6. FCC (Federal Communications Commision)
7. ETSI (Europian Telecommunication Standardization Institute)
8. KOMINFO ( Regulasi Indonesia 01/PER/M.KOMINFO/01/2010 )
Sumber: researchgate.net/publication/350520840_KAJIAN_STANDAR_NASIONAL_INDONESIA_PERANGKAT_TELEKOMUNIKASI
---
## 2. Cellular Evolution (1G-5G)

**1. Jaringan Seluler 1G: AMPS (Generasi Pertama)**
Teknologi jaringan 1G pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1979 oleh Nippon Telegraph dan Telephone. Jaringan 1G saat itu hanyalah sebuah gelombang analog radio sederhana. Artinya, jangkauan dari teknologi 1G ini sangat sempit dan masih belum bisa digunakan dalam skala luas seperti sekarang. Generasi 1G memanfaatkan teknologi FDMA (Frequency Division Multiple Access). FDMA bisa membagi-bagi range frekuensi sehingga pengguna bisa berbicara dengan yang lain di frekuensi tersendiri, dan tidak bercampur dengan frekuensi lainnya. Teknologi koneksi 1G kemudian disebut sebagai NMT (Nordic Mobile Telephone) dan AMPS (Advanced Mobile Phone Service) yang hanya mendukung komunikasi suara dengan kecepatan hingga 14,4 Kbps. Tentu saja kecepatan ini sangat lambat dibandingkan dengan generasi selanjutnya. Jangkauannya juga sempit mengingat perkembangan teknologi jaringan 1G hanya memanfaatkan gelombang analog.
**2. Jaringan Seluler 2G: GSM & CDMA (Generasi Kedua)**
Teknologi jaringan 2G diperkenalkan pada tahun 1991 di Finlandia yang ditandai dengan mulai digunakannya gelombang digital. Perubahannya pun cukup signifikan karena jangkauan yang lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Teknologi 2G ini disebut sebagai GSM (Global System for Mobiles) dan CDMA (Code Division Multiple Access) yang telah mendukung pengiriman teks (SMS) dan suara sekaligus. Fokus utama dari perkembangan teknologi seluler 2G adalah menyediakan layanan suara dan memanfaatkan circuit switching. Generasi ini memiliki memiliki fitur CSD sehingga transfer data lebih cepat, sekitar 14.4 kbps. Di era 2G ini, telepon seluler telah berevolusi, yang mana masyarakat Indonesia bisa menikmati jaringan seluler secara bebas.
**3. Jaringan Seluler 2.5G: GPRS**
Di akhir tahun 1990, teknologi 2G berubah menjadi 2.5G. Jaringan 2.5G merupakan perkembangan teknologi nirkabel berbasis GPRS (General Packet Radio Service) yang berada di antara teknologi nirkabel generasi ke-2 (2G) dan ke-3 (3G). Perbedaan utama antara 2G dan 2.5G terletak pada implementasi packet switching dalam jaringan komputer. Jaringan 2.5G ini menawarkan layanan berorientasikan data dengan kecepatan rata-rata 28 Kbps (Hingga kecepatan teoritis maksimum 384 Kbps). Dengan teknologi 2.5G ini memungkinkan untuk mengirim dan menerima foto & video melalui layanan pesan multimedia (MMS). Layanan yang tidak kalah penting dari 2.5G adalah penjelajahan web melalui WAP, yaitu versi situs web sederhana yang menyesuaikan tampilan ponsel saat itu. Generasi ini juga bisa untuk SMS, voice mail, call waiting, dan transfer data dengan kecepatan maksimal 9.600 bps (bit per second). Kecepatan sebesar itu cukup untuk mengirim SMS, download gambar, atau ringtone MIDI. Suara yang dihasilkan menjadi lebih jernih, karena berbasis digital. Namun, jangkauan jaringan 2G masih terbatas dan sangat tergantung dengan adanya BTS (Base Transceiver Station).
**4. Jaringan Seluler 2.75G: EDGE**
Pada tahun 2003 Teknologi 2.75G pertama kali diperkenalkan oleh operator AT&T di Amerika. Teknologi jaringan 2.75G merupakan peningkatan jaringan versi lanjut dari 2G dan 2.5G yang dikenal dengan EDGE (Enhanced Data rates for Global Evolution). 2.75G memungkinkan untuk mentransfer data dalam bentuk small package dengan kecepatan 48 Kbps (Hingga 384 Kbps). Bahkan dengan perkembangan jaringan seluler ini, internet sudah mulai bisa digunakan oleh para pengguna telepon seluler.
**5. Jaringan Seluler 3G: WCDMA (Generasi Ketiga)**
Teknologi jaringan 3G pertama kali ditemukan pada tahun 1998 dan diperkenalkan tahun 2001 di Jepang, dengan berbagai peningkatan untuk memberikan kualitas jaringan internet yang lebih baik. Jika diperhatikan, perkembangan teknologi 3G pertama kali muncul pada sebuah perangkat seluler. Di mana satu perubahan yang cukup signifikan adalah adanya dukungan mobile internet dan roaming (Akses di luar jangkauan) yang memudahkan pengguna dalam mengakses berbagai informasi. Teknologi 3G awalnya dikenal sebagai WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) yang mendukung kecepatan internet hingga 2 Mbps atau hampir 10x lebih cepat dari teknologi 2G. Di era 3G, kita juga sudah bisa menikmati layanan serba online, seperti live streaming, video streaming, game online, dan juga teleconference. Teknologi 3G juga ditetapkan oleh International Telecommunication Union (ITU) sebagai standar teknologi jaringan yang diadopsi dari IMT-2000. Teknologi 3G kemudian ditingkatkan lagi menjadi teknologi 3.5G HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) yang mendukung kualitas jaringan dan kecepatan yang lebih baik.
**6. Jaringan Seluler 3.5G: HSDPA**
Jaringan 3.5G HSDPA (High-Speed Downlink Packet Access) merupakan peningkatan teknologi khususnya pada sisi kecepatan transfer data melebihi 3G. Perbandingannya, 10x kecepatan data puncak dan 6x kapasitas sistem dari sistem jaringan 3G sebelumnya. Kecepatan tersebut otomatis akan membuat semua orang lebih mudah dalam mengakses internet. Dengan 3.5G, pengguna dapat menggunakan internet bersamaan dengan melakukan telepon ke tujuan yang berbeda. Teknologi jaringan ini juga mampu melayani komunikasi via multimedia di internet menggunakan data video, seperti video call ataupun video sharing dengan kecepatan downlink hingga 14 Mbps. Jaringan 3.5G HSDPA disebut juga sebagai super 3G yang di dalamnya juga mencakup teknologi HSUPA (High-Speed Uplink Packet Access) dan HSPA+ (High-Speed Packet Access Plus).
**7. Jaringan Seluler 3.95G / 4G LTE**
Teknologi jaringan LTE merupakan standar jaringan lanjutan dari generasi sebelumnya yang menyediakan mobile broadband yang tidak hanya cepat. namun juga efisien. Jaringan LTE ini disebut juga 3.95G, dan lebih populer dipasarkan dengan nama 4G LTE. LTE atau Long Term Evolution mengacu pada evolusi peningkatan jaringan GSM/EDGE dan UMTS/HSPA yang memiliki kecepatan data sampai 100 Mbps, bahkan lebih. LTE pertama kali ditemukan oleh NTT Docomo pada tahun 2004 di Jepang, dan mulai dikomersialkan pada tahun 2005 dengan mengikuti standar GSM dan UMTS. LTE ini menyederhanakan teknologi jaringan nirkabel dengan menggunakan antarmuka radio, dan melakukan peningkatan jaringan inti sehingga berdampak pada kecepatan dan kapasitas jaringan yang signifikan.
**8. Jaringan Seluler 4G (Generasi Keempat)**
Teknologi jaringan kemudian berkembang lebih pesat ditandai dengan hadirnya generasi jaringan ke-4, yaitu 4G. Teknologi jaringan 4G pertama kali ditemukan pada tahun 2008 dan dikomersilkan di Stockholm, Swedia, Oslo, dan Norwegia pada tahun 2009. Dari sisi kecepatan, jaringan 4G memiliki kecepatan 500x lebih cepat dibandingkan teknologi 3G pendahulunya. Sedangkan dari sisi fungsionalitas, 4G tidak hanya terbatas pada telepon seluler saja, namun juga bisa digunakan di berbagai macam perangkat yang menggunakan gelombang digital. Teknologi 4G juga membawa sensasi menerima panggilan di atas frekuensi VoLTE (Voice over LTE). Ini membuat kualitas telepon menjadi jauh lebih baik dibanding sebelumnya karena memanfaatkan frekuensi dengan teknologi terbaru. Dengan kecepatan yang tinggi ini, koneksi 4G bisa digunakan untuk berbagai kepentingan seperti perangkat IoT (Internet of Things) yang sekarang sudah mulai banyak digunakan dan dioperasikan melalui jaringan internet.
**9. Jaringan Seluler 5G (Generasi Kelima)**
Dikembangkan pertama kali di Korea Selatan pada tahun 2019, kini teknologi 5G ternyata sudah bisa digunakan di Indonesia dengan Telkomsel dan XL Axiata sebagai pelopornya. Dikutip dari Kominfo, jaringan 5G mulai beroperasi secara komersial di seluruh Indonesia sejak tahun 2021, setelah melakukan 12 kali uji coba sepanjang 2017 hingga 2020. Konektivitas yang cepat serta lebih responsif menjadikan teknologi ini akan sangat berguna dalam meningkatkan performa teknologi sebelumnya. Jaringan 5G didasarkan pada teknologi yang disebut Orthogonal Frequency-Division Multiplexing (OFDM). Teknologi ini merupakan sebuah metode modulasi sinyal digital di saluran kanal yang berbeda untuk mengurangi gangguan sinyal. Teknologi 5G merupakan teknologi yang sangat fleksibel. Teknologi itu dapat diterapkan untuk jenis layanan Mobile Broadband maupun Fixed Broadband atau Fixed Wireless Access (FWA). Untuk layanan 5G Mobile Broadband, lebih cocok memanfaatkan pita-pita frekuensi di lapisan low band dan middle band, seperti pita 700 MHz, 2,6 GHz, dan 3,5 GHz. Konektivitas yang cepat serta lebih responsif menjadikan teknologi ini akan sangat berguna dalam meningkatkan performa teknologi sebelumnya. 5G saat ini sudah dapat dinikmati di beberapa perangkat dan wilayah di Indonesia. Tentunya hal ini akan sangat berpotensi merubah lanskap jaringan mobile internet yang sudah ada dan akan mempengaruhi perkembangan teknologi lain.
Sumber : https://sasanadigital.com/perkembangan-jaringan-mobile-network-dari-masa-ke-masa-1g-ke-5g/
---
## 3. Site, Cell, Cluster
### 3.1 Site
Istilah titik pancaran suatu sistem seluler, dalam site memungkinkan terdiri lebih dari satu sel atau sektor.
### 3.2 Cell
Sistem radio yang membagi suatu kawasan dalam beberapa cakupan area yang kemudian di sebut sel yang sering digambarkan dengan bentuk heksagonal. Hal ini digunakan untuk memastikan bahwa penggunaan frekuensi dapat diterapkan secara luas sehingga mencapai ke semua bagian kawasan tertentu, hal ini bertujuan agar para pengguna dapat melakukan komunikasi menggunakan telepon seluler secara kontinyu tanpa jeda ataupun terputus
### 3.3 Cluster
Sekumpulan beberapa sel yang membagi frekuensi sesuai porsinya tanpa ada pengulangan penggunaan frekuensi. Berikut adalah contoh model area cakupan yang terdiri dari 6 cluster, 3 sektor, dan 6 site.

Sumber: https://openlibrarypublications.telkomuniversity.ac.id/index.php/engineering/article/download/445/418
---
## 4. Sectorization & Cell Splitting
### 4.1 Sectorization Cell
Sel dibagi menjadi beberapa sektor berbentuk baji, yang masing-masing memiliki rangkaian salurannya sendiri. Yang kami maksud dengan bentuk baji adalah sel-selnya membelah pada sudut 120° atau 60°. Sel-sel yang tersektor ini disebut sel mikro. Seperti Pemisahan Sel, ini juga membantu meningkatkan kapasitas saluran dan mengurangi interferensi saluran. 3 atau 6 sektor dibuat dari sel tertentu. Namun berbeda dengan Pemisahan Sel, di sini radius sel tidak berubah setelah sel disektorkan meskipun rasio penggunaan kembali saluran bersama mengalami penurunan. Ini meningkatkan kinerja sistem dengan menggunakan antena pengarah.

**Keuntungan**
1. Sektorisasi meningkatkan rasio signal-to-interference yang berarti ukuran cluster berkurang.
1. Mengurangi interferensi tanpa mengubah kinerja sistem.
1. Meningkatkan kapasitas saluran tanpa harus mengubah radius sel.
1. Meningkatkan frekuensi penggunaan kembali dengan mengurangi jumlah sel dalam cluster.
1. Menetapkan saluran lebih mudah.
**Kekurangan**
1. Meningkatkan jumlah antena per stasiun pangkalan.
1. Hal ini menurunkan efisiensi karena sektor mengurangi kelompok saluran.
1. Gangguan yang berlebihan menyebabkan hilangnya lalu lintas.
1. Jumlah handoff meningkat seiring dengan berkurangnya area kerja sel di Sektor Sel.
### 4.2 Cell Splitting
Pemisahan Sel adalah proses membagi sel menjadi sel-sel yang lebih kecil yang masing-masing memiliki Base Station sendiri. Pada pembelahan, sel-sel baru dengan radius lebih kecil ditambahkan yang disebut sel mikro. Setiap sel baru yang dibuat bersifat independen dan telah mengurangi tinggi antena dan daya pemancar. Penciptaan sel-sel baru yang lebih kecil meningkatkan kapasitas sistem secara keseluruhan. Pemisahan Sel meningkatkan faktor frekuensi penggunaan kembali. Faktor penggunaan kembali frekuensi yang lebih tinggi meningkatkan kapasitas sistem seluler dalam Pemisahan Sel.

**Keuntungan**
1. Meningkatkan kapasitas saluran secara signifikan.
1. Meningkatkan ketergantungan jaringan seluler.
1. Meningkatkan faktor frekuensi penggunaan kembali.
1. Meningkatkan rasio signal-to-noise (SNR).
1. Mengurangi interferensi.
**Kekurangan**
1. Untuk setiap sel individual, diperlukan stasiun pangkalan individual sehingga diperlukan sejumlah besar stasiun pangkalan dalam proses ini.
1. Handoff sering terjadi.
1. Menetapkan saluran itu sulit
Sumber : geeksforgeeks.org/cell-splitting-and-cell-sectoring/?ref=header_search
---
## 5. Frequency Reuse
Skema di mana alokasi dan penggunaan kembali saluran di seluruh wilayah cakupan dilakukan. Setiap stasiun pangkalan seluler dialokasikan sekelompok saluran radio atau sub-band Frekuensi untuk digunakan dalam wilayah geografis kecil yang dikenal sebagai sel. Bentuk selnya Heksagonal, Proses pemilihan dan alokasi sub-pita frekuensi untuk semua stasiun pangkalan seluler dalam suatu sistem.
**Fitur penting dalam penggunaan Penggunaan Kembali Frekuensi**
1. Penggunaan kembali frekuensi meningkatkan efisiensi spektral dan Kualitas sinyal (QoS).
1. Skema klasik penggunaan kembali frekuensi yang diusulkan untuk sistem GSM menawarkan perlindungan terhadap interferensi.
1. Berapa kali suatu frekuensi dapat digunakan kembali tergantung pada kapasitas toleransi saluran radio dari pemancar terdekat yang menggunakan frekuensi yang sama.
1. Dalam skema Penggunaan Kembali Frekuensi, total bandwidth dibagi menjadi beberapa sub-band berbeda yang digunakan oleh sel.
1. Skema penggunaan kembali frekuensi memungkinkan operator sistem WiMax untuk menggunakan kembali frekuensi yang sama di lokasi sel yang berbeda.
**Keuntungan**
1. Peningkatan Efisiensi Spektral: Dengan menggunakan kembali frekuensi yang sama di wilayah geografis yang berbeda, efisiensi spektral dapat ditingkatkan, sehingga memungkinkan penggunaan spektrum yang lebih efisien.
1. Kualitas Layanan yang Lebih Baik: Dengan kemampuan untuk menggunakan kembali frekuensi yang sama di sel yang berbeda, interferensi antar sel dapat diminimalkan, sehingga menghasilkan kualitas layanan yang lebih baik.
1. Hemat Biaya: Penggunaan kembali frekuensi dapat mengurangi biaya pembangunan jaringan seluler karena pita frekuensi yang diperlukan lebih sedikit.
1. Skalabilitas: Penggunaan kembali frekuensi memungkinkan jaringan ditingkatkan dengan mudah dengan menambahkan lebih banyak sel sesuai kebutuhan.
1. Peningkatan Kapasitas Jaringan: Penggunaan kembali frekuensi memungkinkan lebih banyak sel dilayani dengan jumlah spektrum yang sama, sehingga meningkatkan kapasitas jaringan.
1. Skalabilitas: Penggunaan kembali frekuensi memungkinkan jaringan ditingkatkan dengan mudah dengan menambahkan lebih banyak sel sesuai kebutuhan.
**Kekurangan**
1. Peningkatan Interferensi: Penggunaan kembali frekuensi dapat mengakibatkan peningkatan interferensi, terutama di area yang jarak selnya berdekatan. Hal ini dapat menurunkan kualitas layanan dan kapasitas jaringan.
1. Kompleksitas Implementasi : Penggunaan kembali frekuensi memerlukan perencanaan yang cermat untuk memastikan bahwa sel diberi jarak yang tepat dan interferensi diminimalkan. Hal ini dapat membuat proses implementasi menjadi lebih rumit dan memakan waktu.
1. Pengurangan Cakupan: Dengan penggunaan sel yang lebih kecil untuk mencapai kapasitas yang lebih tinggi, area cakupan setiap sel berkurang, sehingga memerlukan lebih banyak stasiun induk dan infrastruktur.
1. Peningkatan Konsumsi Daya: Karena penggunaan sel yang lebih kecil, diperlukan lebih banyak stasiun pangkalan, yang menyebabkan konsumsi daya dan biaya operasional lebih tinggi.
1. Peningkatan Biaya Jaringan: Biaya penerapan sistem penggunaan kembali frekuensi mungkin lebih tinggi karena kebutuhan infrastruktur tambahan dan perencanaan yang matang untuk memastikan penggunaan kembali frekuensi yang tepat.
Sumber : https://www.geeksforgeeks.org/frequency-reuse/?ref=header_search
---
## 6. Duplexing & Multiplexing
### 6.1 Duplexing
Teknologi saat ini memungkinkan transmisi komunikasi dan data dua arah. **Duplexing** adalah nama untuk kemampuan khusus ini yang memungkinkan pengangkutan data dua arah secara simultan. Duplexing dimungkinkan dalam domain waktu dan frekuensi.
Duplexing terbagi menjadi dua yaitu :
**1. Frequency Division Duplexing (FDD)**
Transfer simultan dicapai dengan menggunakan dua pita frekuensi berbeda, satu untuk transmisi uplink dan yang lainnya untuk transmisi downlink. Frekuensi uplink dan downlink ini mungkin tetap dan terpisah satu sama lain. Oleh karena itu, perangkat yang mengaktifkan FDD sering kali memiliki dua antena—satu untuk setiap link. FDD memungkinkan transmisi dan penerimaan sinyal secara simultan karena pita frekuensi membagi saluran komunikasi uplink dan downlink. Baik jaringan seluler seperti 3G dan 4G maupun teknologi komunikasi satelit biasanya menggunakan teknik ini. FDD dapat digunakan untuk aplikasi yang memerlukan pemerataan kapasitas antara uplink dan downlink.

**2.Time Division Duplexing (TDD)**
Metode dupleks ini menggunakan rentang frekuensi penuh untuk periode slot satu kali untuk transmisi dan slot berikutnya untuk penerimaan. Kerangka waktu dibuat cukup singkat untuk memberikan kesan kepada pengguna bahwa uplink dan downlink terjadi pada waktu yang sama untuk mencegah interferensi dan penundaan waktu. Dupleks pembagian waktu (TDD), suatu teknik dupleks, menggunakan pita frekuensi tunggal untuk transmisi dan penerimaan sinyal, namun transmisi dan penerimaan terjadi pada waktu yang berbeda. Karena saluran komunikasi uplink dan downlink menggunakan rentang frekuensi yang sama tetapi dipisahkan oleh interval waktu, TDD memungkinkan transmisi dan penerimaan sinyal secara berurutan.

**Perbandingan Teknik Duplexing FDD dan TDD**
| Kriteria | Frequency Division Duplexing (FDD) | Time Division Duplexing (TDD) |
| ------------------------- | ------------------------------------------------------------------------- | -------------------------------------------------------------------- |
| Penggunaan Pita Frekuensi | Dua pita frekuensi terpisah digunakan untuk transmisi uplink dan downlink | Pita frekuensi tunggal digunakan untuk transmisi uplink dan downlink |
| Penggunaan Interval Waktu | TIDAK | Waktu dibagi menjadi slot waktu untuk transmisi uplink dan downlink | |
|Persyaratan Antena |Diperlukan dua antena, satu untuk uplink dan satu lagi untuk transmisi downlink| Satu antena cukup untuk transmisi uplink dan downlink | | |
| Efisiensi Spektral| Lebih rendah dari TDD |Lebih tinggi dari FDD | | |
|Fleksibilitas |Terbatas|Lebih fleksibel
|Interferensi dan Penundaan | Kurang rentan terhadap gangguan dan penundaan dibandingkan TDD | Lebih rentan terhadap gangguan dan penundaan dibandingkan FDD
|Alokasi Kapasitas|FDD cocok untuk aplikasi yang memerlukan pemerataan kapasitas antara uplink dan downlink | TDD cocok untuk aplikasi dengan alokasi kapasitas variabel antara uplink dan downlink
|Contoh Penggunaan|3G, jaringan seluler 4G, teknologi komunikasi satelit | WiMAX, TD-SCDMA, LTE TDD, Wi-Fi
Sumber : https://www.geeksforgeeks.org/duplexing-techniques/?ref=header_search
### 6.2 Multiplexing
Multiplexing adalah cara mengirimkan banyak sinyal atau aliran informasi melalui tautan komunikasi pada saat yang sama dalam bentuk sinyal tunggal yang kompleks. Ketika sinyal mencapai tujuannya, proses yang disebut demultiplexing , atau demuxing , memulihkan sinyal-sinyal terpisah dan mengeluarkannya ke jalur individual.

Multiplexing digunakan di berbagai industri untuk memfasilitasi komunikasi analog dan digital. Ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1870 - an untuk mendukung telegrafi tetapi sejak itu menjadi andalan dalam bidang telekomunikasi , seperti radio, televisi, dan telepon. Ini juga digunakan dalam jaringan komputer , sering kali untuk mengirimkan banyak sinyal melalui jaringan area luas ( WAN ).
Organisasi menerapkan multiplexing pada jaringan mereka karena dua alasan:
1. Memungkinkan perangkat jaringan berkomunikasi satu sama lain tanpa memerlukan koneksi khusus antara masing-masing pasangan perangkat, meskipun multipleksing tetap memerlukan media bersama.
1. Memanfaatkan sumber daya jaringan yang langka atau mahal dengan lebih baik. Misalnya, multiplexing dapat digunakan untuk mengirimkan banyak sinyal melalui uplink satelit atau pada kabel atau serat yang menghubungkan wilayah metropolitan utama.
Berikut adalah jenis-jenis multiplexing :
**1. Frequency-division multiplexing (FDM)**
Bandwidth pada link komunikasi dibagi menjadi sub-saluran dengan lebar frekuensi berbeda, masing-masing membawa sinyal secara paralel dengan sinyal lainnya. Transmisi radio analog biasanya menggunakan FDM untuk menggandakan sinyal melintasi gelombang radio. TV kabel analog juga menggunakan FDM, mengirimkan beberapa saluran ke untaian kabel koaksial yang sama. Salah satu cabang dari FDM adalah orthogonal frekuensi-division multiplexing ( OFDM ), yang mentransmisikan frekuensi sub-saluran lebih dekat satu sama lain, sekaligus memungkinkan frekuensi-frekuensi tersebut tumpang tindih dan tetap terpisah.
**2. Wavelength-division multiplexing (WDM)**
Berbagai saluran komunikasi dikonsolidasikan dan kemudian ditransmisikan pada gelombang cahaya dengan panjang gelombang berbeda. Secara konseptual, ini mirip dengan FDM, hanya saja FDM dijelaskan dalam istilah frekuensi -- siaran radio atau televisi, misalnya -- sedangkan WDM khusus untuk panjang gelombang. Pendekatan WDM lebih umum terjadi pada sistem telekomunikasi dan jaringan komputer yang menggunakan sistem laser untuk mengirimkan sinyal cahaya melalui kabel serat optik. Variasi WDM mencakup WDM kasar dan WDM padat ( DWDM ), yang masing-masing menempatkan lebih sedikit atau lebih saluran informasi pada media pada saat yang bersamaan.
**3. Time-division multiplexing (TDM)**
Beberapa sinyal digital ditransmisikan melalui saluran yang sama dalam slot waktu bergantian. TDM beroperasi pada tingkat temporal, tidak seperti FDM dan WDM yang beroperasi pada tingkat frekuensi atau panjang gelombang. Meskipun TDM berakar pada telegrafi, kini TDM umum digunakan dalam telepon digital untuk mengirimkan banyak percakapan melalui media umum. TDM juga digunakan pada tautan Jaringan Optik Sinkron , yang pernah menjadi andalan WAN perusahaan dan konektivitas internet. TDM dapat berupa sinkron atau asinkron .
**4. Code-division multiplexing (CDM)**
Urutan bit yang disebut kode penyebaran ditugaskan ke setiap sinyal untuk membedakan satu sinyal dari sinyal lainnya. Kode penyebaran digabungkan dengan sinyal asli untuk menghasilkan aliran data baru yang dikodekan, yang kemudian ditransmisikan pada media bersama. Demux yang mengetahui kode tersebut kemudian dapat mengambil sinyal asli dengan mengurangi kode penyebarannya, sebuah proses yang disebut dispreading . CDM banyak digunakan dalam penyiaran televisi dan radio digital dan dalam jaringan seluler 3G -- 4G dan 5G terutama menggunakan OFDM. CDM juga dapat mendukung banyak sinyal dari berbagai sumber, suatu teknik yang dikenal sebagai akses ganda pembagian kode .
**5. Polarization-division multiplexing (PDM)**
Sinyal elektromagnetik yang masuk dipolarisasi menjadi saluran ortogonal yang ditransmisikan melalui media umum. PDM sering digunakan dalam komunikasi serat optik, serta transmisi radio dan gelombang mikro. Misalnya, penyedia TV satelit sering menggunakan PDM untuk mengirimkan sinyal TV ke parabola.
**6. Space-division multiplexing (SDM)**
Jalur sinyal dipisahkan secara spasial melalui penggunaan banyak konduktor , seperti serat optik atau kabel listrik. Konduktor digabungkan menjadi satu media transportasi tetapi terpisah secara fisik, dengan masing-masing konduktor menangani saluran transmisi. Konduktor individu dapat dimultipleks lebih lanjut melalui penggunaan FDM, TDM atau teknik lainnya. SDM sering digunakan dalam sistem kabel bawah laut untuk membantu meningkatkan kapasitas, namun juga dapat digunakan untuk komunikasi nirkabel.
Sumber: https://www.techtarget.com/searchnetworking/definition/multiplexing
---
## 7. Multiple Acces
Multiple Acces adalah protokol yang digunakan untuk mengontrol giliran penggunaan LINK oleh user sehingga tidak ada user yang tersisih atau tidak mendapat giliran didalam penggunaan media transmisi atau memonopoli penggunaannya.

### 7.1 Random Acces
Pada Random Acces, giliran pengunaan LINK dilakukan secara random tergantung kepada pengguna yang paling cepat mengakses media transmisinya. Metode ini dikenal dengan istilah metode contention. Pada metode ini juga, setiap pengguna bebas menggunakan media tanpa dikontrol oleh stasiun lainnya. Pada saar pengguna memiliki data yang akan dikirim, maka pada saat itu protokol mengaturnya dengan memperhatikan konisi kanal, yaitu kondisi bebas (idle) atau sibuk (busy).
Random Acces terbagi menjadi 4 jenis yaitu :
**1. ALOHA**
Metode ini dirancang untuk jaringan radio yang menghubungkan beberapa stasiun remote ke sebuah komputer sentral.
Aloha terbagi menjadi 2 jenis metode yaitu :
* Pure ALOHA
Pada metode ini stasiun langsung melakukan pengiriman pada saat mereka memiliki data untuk dikirim tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah LINK dalam keadaan bebas atau tidak. Pada metode ini akan banyak terjadinya collision atau tabrakan data. Pada metode ini, pengirim akan memantau ACK dari penerima. Jika tidak ada ACK dari penerima, maka pengirim akan mengirimkan kembali frame-nya
* Slotted ALOHA
Metode ini dibuat guna memperbaiki mekanisme pada Pure ALOHA agar lebih efisien. Pada metode ini waktu dibagi menjadi periode-periode tertentu dan setiap pengguna hanya boleh mengirimkan frame pada awal periode dan selesai pada akhir periode sesuai ketentuan.
**2. CSMA**
Pada metode CSMA ini dilakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum mengirimkan data.
CSMA terbagi menjadi 3 jenis metode yaitu :
* CSMA 1-Persitent
Pada metode ini, stasiun akan mendeteksi kanal sebelum mengirimkan frame sampai teridentifikasi idle dan langsung mengirimkan datanya.Jika media teridentifikasi busy maka stasiun akan terus menerus memantau dan akan langsung mengirim data begitu teridentifikasi idle.
* CSMA Nonpersitent
Sama seperti CSMA 1-Persitent, hanya saja jika media teridentifikasi busy maka stasiun akan akan menunggu dalam waktu random, baru kemudian melakukan pengecekan kembali.
* CSMA P-Persitent
Metode ini merupakan gabungan dari metode CSMA 1-Persitent dan CSMA Nonpersitent.
**3. CSMA/CD**
Pada metode ini, jika terjadi collision, maka stasiun dapat
mengirimkan kembali frame tersebut.
**4. CSMA/CA**
Pada metode ini,s ebelum melakukan pengiriman, Stasiun yang akan mengirimkan frame akan membuat broadcast message untuk memberitahukan pada stasiun lain bahwa akan mengirim file dan stasiun
yang menerima broadcast message, akan menunggu hingga pengiriman selesai lalu dia akan mengirimkan frame dengan cara yang sama juga.
### 7.2 Controlled Acces
Pada Controlled Access, pengguna diatur gilirannya, baik dengan cara mereservasi terlebih dahulu resource-nya, diatur oleh perangkat tertentu secara terpusat maupun menunggu giliran sesuai ketentuan.
Controlled Access dibagi menjadi 3 metode diantaranya yaitu :
**1. Reservation**
Pada metode ini stasiun harus melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum mengirimkan data.
**2. Polling**
Pada metode ini terdapat 2 jenis device yaitu stasiun primer dan stasiun sekunder.Jika stasiun primer hendak menerima data, maka stasiun primer akan bertanya kepada stasiun sekunder apakah ada data dari stasiun sekunder yang hendak dikirimkan, fungsi ini disebut Fungsi Poll. Jika stasiun primer hendak mengirimkan data, maka stasiun primer akan memberikan komando kepada stasiun sekunder untuk siap
menerima data, fungsi ini disebut Fungsi Select.
**3. Token Pasing**
Jika data telah dikirimkan oleh stasiun yang memegang token atau waktunya telah habis, maka token akan bergeser ke stasiun berikutnya. Artinya stasiun tersebut sedang mendapatkan giliran untuk mengirimkan data.
### 7.3 Channelization
Channelization terbagi menjadi 3 metode diantaranya yaitu :
**1. TDMA (Time Division Multiple Access)**
Pada metode ini, bandwidth dibagikan dalam bentuk waktu dan Setiap stasiun mendapat giliran mengirimkan data pada slot waktu tertentu.Pada metode ini, sinkronisasi waktu sangat penting yang mana pengirim dan penerima harus mempunyai pandangan yang sama mengenai waktu yang menjadi awal dan akhir sebuah frame. Contoh : GSM
**2. FDMA (Frequency Division Multiple Access)**
Pada metode ini, setiap stasiun mendapatkan alokasi frekuensi tertentu untuk mengirimkan data. Setiap stasiun menggunakan bandpass filter untuk mengatur frekuensi pengiriman sesuai peruntukannya. Contoh : Stasiun Televisi
**3. CDMA (Code Division Multiple Access)**
Pada metode ini, setiap stasiun mendapatkan alokasi kode tertentu untuk mengirimkan data. Setiap stasiun menggunakan kode – kode tersebut untuk pengiriman sesuai peruntukannya. Contoh : WCDMA
Sumber : https://budhiirawan.staff.telkomuniversity.ac.id/files/2017/02/8.-Multiple-Access.pdf
---
## 8. Handover
Dalam telekomunikasi seluler, istilah handover atau handoff mengacu pada proses pengalihan panggilan atau konektivitas data yang sedang berlangsung dari satu Base Station ke Base Station lainnya. Ketika sebuah ponsel berpindah ke sel yang berbeda saat percakapan sedang berlangsung maka MSC (Mobile Switching Center) mentransfer panggilan tersebut ke saluran baru milik Base Station baru.

Ketika pengguna seluler A berpindah dari satu sel ke sel lain maka kekuatan sinyal BSC 1 hilang untuk Pengguna seluler A dan kekuatan sinyal BSC 2 meningkat dan dengan demikian panggilan atau konektivitas data yang sedang berlangsung untuk pengguna seluler tetap berjalan tanpa gangguan.
Jenis-jenis Handover :
**1. Hard Handoff**
Ketika terjadi pemutusan konektivitas saat berpindah dari satu Base Station ke Base Station lainnya. Tidak ada beban pada Base Station dan MSC karena peralihan terjadi sangat cepat sehingga hampir tidak disadari oleh pengguna. Kualitas koneksinya tidak begitu bagus. Hard Handoff mengadopsi kebijakan 'break before make'.
**2. Soft Handoff**
Soft Handoff adalah mekanisme di mana perangkat terhubung dengan dua atau lebih stasiun pangkalan pada saat yang bersamaan. Setidaknya salah satu link dipertahankan ketika sinyal radio ditambahkan atau dihapus ke Base Station. Soft Handoff mengadopsi kebijakan 'make before break'. Jika suatu saluran mengalami pemadaman listrik maka saluran lain akan selalu dalam mode siaga sehingga ini menjadikannya yang terbaik dalam hal kualitas dibandingkan dengan Handoff keras. Soft handoff digunakan pada perangkat yang mendukung jaringan CDMA / WDMA
**3. Delayed Handoff**
Handoff tertunda terjadi ketika tidak ada stasiun pangkalan yang tersedia untuk menerima transfer. Panggilan berlanjut hingga kekuatan sinyal mencapai ambang batas, dan setelah itu, panggilan terputus. Umumnya, hal ini terjadi ketika pengguna berada di luar area jangkauan jaringan, atau di beberapa titik mati yang jangkauan jaringannya sangat rendah.
**4. Mobile-Assisted Handoff**
Handoff Berbantuan Seluler umumnya digunakan ketika telepon seluler membantu stasiun pangkalan untuk mentransfer panggilan ke stasiun pangkalan lain dengan konektivitas yang lebih baik dan kekuatan sinyal yang lebih baik. Handoff ini digunakan pada perangkat GSM berbasis teknik TDMA.
Sumber : https://www.geeksforgeeks.org/handoff-in-cellular-telecommunications/?ref=header_search
---
## 9. Interference, Fading, & Noise
### 9.1 Interference
Fenomena di mana dua gelombang merambat dalam arah yang sama dalam medium yang sama saling bertumpang tindih sehingga menghasilkan muka gelombang yang berbeda disebut Interferensi.
Berikut adalah 2 jenis interferensi :
**1. Co-Channel Interference**
Interefernsi dari sejumlah sel yang menggunakan frekuensi sama dalam area jangkauan tertentu. Interferensi dari sel-sel ini disebut interferensi saluran bersama (Co-Channel Interference). Dalam interferensi saluran bersama, sel-sel dikelompokkan sedekat mungkin untuk mengurangi antarmuka saluran bersama dan menyediakan isolasi yang cukup. Meningkatkan rasio penggunaan kembali saluran bersama akan meningkatkan kualitas transmisi karena tingkat interferensi saluran bersama yang lebih kecil. Contoh interferensi saluran bersama adalah ketika pemancar radio beroperasi pada frekuensi yang sama.
Alasan dibalik interferensi Co-channel adalah:
* Kondisi cuaca buruk
* Perencanaan frekuensi yang buruk
Cara kita dapat mengurangi interferensi co-channel dalam komunikasi seluler adalah:
* Perencanaan dan implementasi yang tepat.
* Teknik penggunaan kembali frekuensi meningkatkan kapasitas sistem secara keseluruhan.
**2. Adjacent Channel Interference**
interferensi yang disebabkan oleh sinyal yang frekuensinya berdekatan dengan sinyal yang diinginkan. Filter sisi penerima yang tidak sempurna memungkinkan sinyal tetangga bercampur dengan pita lintasan sebenarnya. jika kekuatan sinyal saluran yang berdekatan menjadi kuat, akan sulit bagi Base Station untuk membedakan sinyal seluler sebenarnya dari sinyal seluler yang kuat.
Alasan di balik gangguan saluran yang berdekatan adalah sebagai berikut:
* Karena beberapa saluran berdekatan satu sama lain berkomunikasi menggunakan frekuensi yang sama.
* Emisi listrik yang tidak relevan dari saluran yang berdekatan.
Faktor-faktor untuk mengurangi Interferensi Saluran Berdekatan adalah sebagai berikut:
* Penyaringan yang tepat
* Penugasan Saluran yang Hati-hati
* Dengan mengatur ruang antara dua sel yang berdekatan harus tetap konstan.
Sumber : https://www.geeksforgeeks.org/co-channel-and-adjacent-channel-interference-in-mobile-computing/?ref=header_search
### 9.2 Fading
Fading adalah fenomena dimana kekuatan dan kualitas sinyal radio berfluktuasi seiring waktu dan jarak. Fading disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk propagasi multipath, kondisi atmosfer, dan pergerakan objek pada jalur transmisi. Fading dapat mempunyai dampak yang signifikan terhadap kinerja sistem komunikasi nirkabel, khususnya yang beroperasi pada pita frekuensi tinggi.
**1.Small Scale Fading**
Hal ini terjadi ketika sinyal ditransmisikan dari pemancar ke penerima dan mengalami banyak jalur sinyal karena pemantulan, difraksi, dan hamburan dari objek di lingkungan.
**a. Multipath delay spread**
Jenis pemudaran skala kecil yang terjadi ketika sinyal yang ditransmisikan mengambil beberapa jalur untuk mencapai penerima.
**b. Doppler Spread**
Jenis pemudaran skala kecil yang terjadi ketika ada gerakan relatif antara pemancar dan penerima. Gerakan relatif tersebut menyebabkan pergeseran frekuensi sinyal yang ditransmisikan, yang dikenal dengan pergeseran Doppler.
**2. Large Scale Fading**
Fenomena yang terjadi pada komunikasi nirkabel ketika kekuatan sinyal menurun dalam jarak jauh. Large Scale Fading disebut “Large Scale” karena variasinya terjadi dalam jarak yang jauh, biasanya beberapa kilometer.
**a. Path Loss**
Berkurangnya kekuatan sinyal saat sinyal bergerak dari pemancar ke penerima. Kehilangan jalur disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain jarak, frekuensi sinyal, hambatan pada jalur sinyal, dan karakteristik lingkungan.
**b. Shadowing**
Jenis pemudaran berskala besar yang terjadi karena adanya hambatan atau penghalang pada jalur sinyal.
Sumber : https://www.geeksforgeeks.org/fading-in-wireless-communication/?ref=header_search
### 9.3 Noise
Noise adalah sinyal-sinyal yang tidak diinginkan yang selalu ada dalam suatu sistem transmisi. Noise ini akan mengganggu kualitas dari sinyal terima yang diinginkan dan akhirnya menggangu proses penerimaan dan pengiriman data.
Berdasarkan Sumbernya noise dibedakan menjadi 2 :
**1. Internal Noise (Derau Internal)**
Internal Noise adalah noise yang dibangkitkan oleh komponen-komponen dalam sistem komunikasi itu sendiri.
Jenis-jenis internal noise yaitu :
**a. Thermal Noise (Derau Termal)**
Thermal Noise atau disebut juga dengan Johnson Noise ini adalah noise yang dibangkitkan oleh gerakan thermal acak pembawa muatan (biasanya elektron) dalam sebuah konduktor. Amplitudo pada Thermal Noise tidak terikat pada frekuensi tertentu sehingga noise ini dapat terjadi pada seluruh jangkauan frekuensi. Thermal Noise merupakan noise yang sulit untuk dihindari.
**b. Shot Noise (Derau Tembakan)**
Shot Noise atau Derau Tembakan ini terjadi karena adanya penghalang potensial atau Potential Barrier. Shot Noise umumnya muncul di perangkat atau komponen elektronika aktif seperti Dioda dan Transistor karena pada komponen-komponen aktif tersebut memiliki persimpangan Positif dan Negatif atau PN Junction. Ketika Elektron dan Holes melintasi penghalang, maka akan menimbulkan noise yang disebut dengan Shot Noise atau Derau Tembakan.
**c. Flicker Noise (1/f Noise)**
Flicker Noise yang juga dikenal dengan nama 1/f Noise ini adalah Jenis noise yang terjadi pada rentang frekuensi dibawah beberapa kiloHertz (kHz). Densitas daya spektral noise jenis ini akan semakin meningkat seiring dengan penurunan frekuensi. Oleh karena itu, Flicker Noise ini juga disebut dengan Low Frequency Noise atau Derau Frekuensi Rendah. Flicker Noise ini jjuga sering disebut dengan Contact Noise atau Pink Noise.
**d. Transit Time Noise**
Transit Time adalah waktu yang dibutuhkan untuk pembawa muatan untuk berpindah dari input ke output. Jadi yang dimaksud dengan Transit Time Noise adalah noise yang timbul pada saat transit time pembawa muatan semikonduktor yaitu pada saat pembawa muatan melintasi persimpangan yang dibandingkan dengan jangka waktu sinyal tersebut. Transit Time Noise ini sering disebut juga dengan High Frequency Noise.
**2. Eksternal Noise (Derau Eksternal)**
External Noise atau derau eksternal adalah derau yang dihasilkan dari luar rangkaian elektronik itu sendiri. Noise ini bukan disebabkan oleh komponen dari rangkaian atau perangkat elektronik/listrik.
Eksternal Noise ini terdiri dari :
**a. Atmospheric Noise (Derau Atmosfer)**
Atmospheric Noise atau Derau Atmosfer atau dikenal juga dengan Noise Statis merupakan sumber gangguan elektris yang terjadi secara alami karena berkaitan dengan atmosfer bumi. Derau Atmosfer ini bisa disebabkan oleh petir, halilintar, badai dan gangguan alam lainnya.
**b. Industrial Noise (Derau Industri)**
Industrial Noise atau derau industri adalah derau yang dihasilkan oleh manusia seperti menghidupkan motor elektrik, peralihan gigi mesin, mematikan dan menghidupkan lampu listrikr melalui sakelar, perubahan tegangan dan arus listrik tinggi yang mendadak dan aktivitas manusia lainnya. Industrial Noise ini juga sering disebut dengan Man-Made Noise (derau yang dihasilkan oleh manusia).
**c. Extraterrestrial Noise (derau luar angkasa)**
Extraterrestrial Noise atau derau luar angkasa adalah sinyal elektris yang berasal dari luar atmosfer bumi. Berdasarkan asalnya, Extraterrestrial Noise ini dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu Solar Noise yang berasal dari panas matahari dan Cosmic Noise yaitu noise yang didistribusikan secara berkesinambungan di sepanjang galaksi.
Macam-Macam Noise
**1. White noise**
White noise (derau putih) merupakan suatu noise dengan kerapatan spektral daya yang merata pada seluruh komponen frekuensinya. Dikatakan white noise karena berpedoman pada kenyataan bahwa sebenarnya cahaya putih merupakan kumpulan dari berbagai warna yang dapat diuraikan secara merata melalui suatu spektrum. Demikian pula dengan white noise yang juga terdiri dari berbagai sumber derau, serta lebar daerah energi elektron dan molekul-molekul yang merupakan pembangkit derau tersebut. Gambar dibawah memperlihatkan bentuk white noise dalam suatu saluran komunikasi.
**2. Additive White Gaussian Noise**
AWGN merupakan singkatan dari Additve White Gaussian Noise. AWGN merupakan noise yang pasti terjadi dalam jaringan nirkabel manapun, memiliki sifat-sifat Additive, White, dan Gaussian. Sifat Additive artinya noise ini dijumlahkan dengan sinyal, sifat White artinya noise tidak bergantung pada frekuensi sistem operasi dan memiliki rapat daya yang konstan, dan sifat Gaussian artinya besarnya tegangan noise memiliki rapat peluang terdistribusi gaussian.[2] Pada kanal transmisi selalu terdapat penambahan derau yang timbul karena akumulasi derau termal dari perangkat pemancar, kanal transmisi, dan perangkat penerima. Derau yang menyertai sinyal pada sisi penerima dapat didekati dengan model matematis statistik AWGN. Derau AWGN merupakan gangguan yang bersifat Additive terhadap sinyal transmisi, dimodelkan dalam pola distribusi acak Gaussian dengan rataan (mean) nol, standar deviasi 1, dan mempunyai rapat spektral daya yang tersebar merata pada lebar pita frekuensi tak berhingga.
**3. Pseudorandom Noise**
Kode Pseudo-Noise (PN) sequence bersifat seperti noise, digunakan sebagai sinyal pembawa pada sistem spread spectrum. Pemilihan kode yang baik merupakan hal yang penting, karena tipe dan panjang kode menentukan batasan-batasan kapabilitas sistem. Kode PN sequence merupakan pseudo random sequence dari 1 dan 0, tetapi tidak benar-benar random sequence karena sifatnya yang periodis. Sedang random sinyal tidak dapat diprediksi. Auto korelasi dari kode PN memiliki sifat simular terhadap white noise. Sifat Pseudorandom :
* Tidak random, tetapi terlihat random bagi pengguna yang tidak mengetahui kode tersebut.
* Determenistik, diketahui oleh transmitter dan receiver.
* Memiliki ciri-ciri statistik yang mirip dengan white noise.
**Efek Noise**
Derau dapat memberikan efek gangguan pada sistem komunikasi dalam 3 area:
* Derau menyebabkan pendengar tidak mengerti dengan sinyal asli yang disampaikan atau bahkan tidak mengerti dengan seluruh sinyal
* Derau dapat menyebabkan kegagalan dalam sistem penerimaan sinyal.
* Derau juga mengakibatkan sistem yang tidak efisien
Sumber : https://fit.labs.telkomuniversity.ac.id/noise-sistem-komunikasi-jenis-jenis-dan-pengaruhnya/
---
## 10.Overview 2G (GSM,CDMA)
### 10.1 Architecture
Arsitektur GSM secara garis besar terdiri dari 3 subsistem yang terkoneksi dan berinteraksi antar sistem dan dengan user melalui network interface, subsistem tersebut adalah, base station subsystem (BSS), network and switching system (NSS), dan operation support subsystem (OSS)

Secara umum arsitektur jaringan GSM (2G) dibagi menjadi beberapa bagian dan masing – masing memiliki fungsi yang berbeda, yaitu sebagai
berikut :
1. Mobile Station (MS)****
Mobile Station atau MS merupakan perangkat yang digunakan oleh user atau pelanggan untuk melakukan pembicaraan. Terdiri atas :
* Mobile Equipment (ME) atau handset, merupakan perangkat GSM yang berada di sisi pengguna atau pelanggan yang berfungsi sebagai terminal transceiver (pengirim dan penerima sinyal) untuk berkomunikasi dengan perangkat GSM lainnya.
* Subscriber Identity Module (SIM) atau SIM Card, merupakan kartu yang berisi data informasi user atau pelanggan dan beberapa informasi lainnya. Mobile Equipment (ME) tidak dapat digunakan apabila tidak ada SIM didalamnya, kecuali untuk panggilan darurat.
**2. Base Station Sub-system (BSS)**
Base Station Sub-system (BSS) merupakan bagian jaringan telepon selular yang bertanggungjawab menangani trafik atau lalu lintas jaringan antara telepon bergerak dengan Network Sub-system (NSS) Base Station Sub-system (BSS) atau BSS terdiri atas :
* Base Transceiver Station (BTS) merupakan perangkat GSM yang berhubungan langsung dengan Mobile Station (MS) dan juga berfungsi sebagai pengirim dan penerima sinyal.
* Base Station Controller (BSC) merupakan perangkat yang tugasnya mengontrol kinerja Base Transceiver Station (BTS) yang berada dibawahnya dan juga sebagai penghubung antara Base Transceiver Station (BTS) dan Mobile Switching Center (MSC.
**3. Network Sub-system (NSS)**
Network Sub-system merupakan komponen utama switching jaringan GSM yang berfungsi untuk mengatur komunikasi antara jaringan GSM dengan jaringan telekomunikasi lainnya.
Network Sub-system atau NSS terdiri atas :
* Mobile Switching Center atau MSC merupakan sebuah network element central dalam sebuah jaringan GSM. Mobile Switching Center (MSC) merupakan inti dari jaringan seluler, dimana MSC sebagai perantara interkoneksi hubungan pembicaraan, baik antar selular maupun menggunakan jaringan kabel PSTN, ataupun dengan menggunakan jaringan data.
* Home Location Register (HLR) berfungsi sebagai database untuk menyimpan semua data informasi user atau pelanggan agar tersimpan secara permanen.
* Visitor Location Register (VLR) berfungsi untuk menyimpan data informasi user atau pelanggan.
* Authentication Center atau AuC diperlukan untuk menyimpan semua data yang dibutuhkan untuk memeriksa keabsahan user atau pelanggan. Sehingga pembicaraan user atau pelanggan yang tidak sah bisa terhindar.
* Equipment Identity Registration atau EIR berfungsi untuk memuat data-data user atau pelanggan.
4. Operation and Support System (OSS)
Operation and Support System (OSS) merupakan keseluruhan dari aktivitas telekomunikasi yang dimiliki oleh sistem. OSS merupakan sistem yang telah di program untuk menjalankan kegiatan operasi dalam manajemen yang telah di konsep.
### 10.2 Bandwidth
Bandwidth yang digunakan oleh jaringan 2G bervariasi tergantung pada teknologi yang digunakan. Pada jaringan GSM, bandwidth yang digunakan berkisar antara 30 KHz hingga 200 KHz 1. Sementara itu, jaringan CDMA menggunakan bandwidth sekitar 1.25 MHz
### 10.3 Modulation
1. GSM menggunakan modulasi GMSK (Gaussian Minimum Shift Keying)
1. CDMA menggunakan modulasi QPSK (Quadrature Phase Shift Keying)
### 10.4 Frequency Band
Teknologi GSM menggunakan sistem TDMA dengan alokasi kurang lebih sekitar delapan pengguna di dalam satu channel frekuensi sebesar 200 kHz persatuan waktu. Awalnya, frekuensi yang digunakan adalah 900 MHz. Pada perkembangannya frekuensi yang digunakan adalah 1800 MHz dan 1900 MHz.
### 10.5 Multiple Access
1. GSM menggunakan Time Division Multiple Access (TDMA)
Sumber : https://repository.ittelkom-pwt.ac.id/6269/1/BAB%20II.pdf
---
## 11.Overview 3G (UMTS,WCDMA)
### 11.1 Architecture
Universal Mobile Telecommunication System (UMTS) merupakan sistem seluler generasi ketiga yang berasal dari evolusi sistem seluler GSM yang telah di standardisasikan oleh European Telecommunication Standard System (ETSI). UMTS dikembangkan karena melihat dari kebutuhan user atau pengguna yang makin hari makin meningkat dari aplikasi mobile dan internet sehingga komunikasi melalui mobile semakin ramai. UMTS sebagai pengembangan dari GSM menjadi standar global baru dengan kapasitas handling data yaitu mecapai 2 Mbps. Dengan demikian, sistem seluler UMTS
membawa perubahan pada para user atau pelanggan, yang awalnya dari telepon biasa berbasis suara menjadi video phone, dan internet browser menjadi alat informasi yang canggih. Home network bisa dikatakan sebagai jaringan asal dari USIM Card (User Services Identity Module) yang berfungsi memberikan identitas dan lokasi pemakai. Karakteristik utamanya yaitu ketika pemakai menggunakan ponsel,identitasnya dapat dikenali walaupun dia berada di daerah dengan sistem dan operator seluler yang berbeda. Serving Network bertugas melakukan akses jaringan untuk menyediakan koneksi dengan UE dan bertanggung jawab terhadap call routing dan pengiriman dan penerimaan informasi data. Hubungannya dengan home network adalah untuk memenuhi spesifikasi data dan layanan dari UE yang sedang aktif, sedangkan hubungan dengan transit network adalah penanganan UE yang tidak aktif. Transit Network berada diantara Serving Network dan Remote Part. Jika terdapat call, remote part berada di dalam jaringan yang menangani UE, lalu Transit Network akan aktif jika UE berpindah sel (handover).

Arsitektur dasar dari jaringan UMTS terdiri dari dua bagian yaitu User Equipment dan Infrastructure. Pada bagian User Equipment (UE) digunakan oleh user atau pengguna untuk mengakses layanan UMTS, sedangkan pada bagian infrastructure terdapat dua komponen utama yaitu UMTS Terrestrial Radio Access Network (UTRAN) dan Core Network atau jaringan inti yang menyediakan layanan ke semua user atau pengguna secara menyeluruh dalam satu cakupan area.
**1. User Equipment (UE)**
User Equipment (UE) merupakan Mobile Station (MS) atau ponsel yang telah terpasang SIM Card.
**2. UMTS Terrestrial Radio Access Network (UTRAN)**
UMTS Terrestrial Radio Access Network (UTRAN) merupakan
komponen arsitektur jaringan UMTS yang identik dengan Base Station Subsystem (BSS). Pada komponen UTRAN terdiri dari 2 terminal utama yaitu Radio Network Subsystem (RNS) dan Core Network (CN). Pada RNS memiliki 2 terminal Node B dan 1 buah Radio Network Controller (RNC). Radio Access Network (RNC) merupakan jaringan GSM yang digunakan sebagai pengganti Base Station Controller (BSC). Pada RNC mengontrol satu atau lebih Node B yang tugasnya bertanggung jawab dalam melakukan operasi dan pemeliharaan, manajemen sumber radio handover, menangani masalah pada trafik, mengontrol sinyal antar RNS, dan protokol jaringan antara antarmuka Iu,IuR, dan IuB. UMTS mempunyai empat antarmuka baru yang menggantikan antarmuka lama pada GSM yaitu :
* Uu : antarmuka yang menghubungkan UE ke Node B
* IuB : antarmuka yang menghubungkan RNC ke Node B
* Iu : antarmuka yang menghubungkan RNC ke Core Network
* IuR : antarmuka yang menghubungkan antar RNC
**3. Core Network atau jaringan inti**
Core Network merupakan sebuah jaringan yang mendukung layanan UMTS seperti identifikasi user atau pelanggan dan informasi lokasi pelanggan. Pada jaringan UMTS dapat berhubungan secara penuh dengan ISDN, memenuhi kebutuhan trafik, dan layanan internet protocol.
### 11.2 Bandwidth
Bandwidth yang digunakan oleh jaringan UMTS berkisar antara 5 MHz hingga 20 MHz 1. Sementara itu, jaringan CDMA2000 menggunakan bandwidth sekitar 1.25 MHz.
### 11.3 Modulation & Frequency Band
UMTS menggunakan modulasi QPSK (Quadrature Phase Shift Keying) dan frekuensi band 2100 MHz 1. CDMA2000 menggunakan modulasi QPSK (Quadrature Phase Shift Keying) dan frekuensi band 800 MHz atau 1900 MHz 2.
### 11.4 Multiple Access
1. UMTS menggunakan Code Division Multiple Access (CDMA)
1. WCDMA menggunakan CDMA
Sumber : https://repository.ittelkom-pwt.ac.id/6269/1/BAB%20II.pdf
http://www.sinauonline.50webs.com/GSM/wcdma%20arsitekutur.html