# Melepasliarkan Bujang Ribut, Cerita Sebelum dan Setelah Lepasliar **Oleh:** **Andrick**, *Kepala RKW Padang Pariaman (2019)*, **Ansarul**, *Kepala RKW Tanah Datar (2017-2020)* dan **Budi Novella**, *Kepala Resort Kota Padang (2018-2019)* Lepasliar satwa mamalia besar dan buas seperti harimau Sumatera kembali ke habitat alaminya bukan persoalan mudah, banyak faktor seperti kesesuaian dan dukungan habitat, jaraknya harus jauh dari pemukiman masyarakat, keamanan lokasi dan khusus untuk Bujang Ribut yang berkelamin jantan perlu dipastikan tidak terdapat harimau jantan lain di kawasan lepas liar karena menurut literatur setiap harimau jantan memiliki teritori sendiri, keberadaan jantan lain di wilayah kekuasaan berarti akan ada persaingan keras untuk memperebutkan wilayah, dan pihak yang kalah kemudian akan mencari wilayah lain. LIteratur juga menjelaskan, sering sekali satwa yang kalah memperebutkan daerah kekuasaan ini dalam keadaan terluka dan dan kelelahan terpaksa mencari mangsa ‘mudah’ seperti ternak atau manusia. Sebagai kelanjutan dari proses penanganan konflik manusia dan satwa liar, kita tidak ingin lepasliar satwa ini kemudian hanya memindahkan lokasi konflik manusia dan satwa harimau sumatera ke tempat lain. Proses lepasliar Bujang Ribut telah mulai dipikirkan sejak konflik satwa ini mulai ditangani dan setelah tim memutuskan untuk memasang perangkap, karena jika sewaktu-waktu satwa berhasil ditangkap, penanganan konflik di lapangan dapat dikatakan selesai, namun keselamatan dan kelestarian satwa masih membutuhkan upaya lebih lanjut, karena satwa perlu direhabilitasi, lokasi lepas liar perlu dipastikan dan proses lepasliar perlu dipersiapkan. ## Pencarian dan Penentuan lokasi Lepasliar Kurang dari 1 minggu setelah Bujang Ribut dititipkan ke PR-HSD, Tim mengusulkan 5 lokasi alternatif lepas liar kepada Kepala Balai KSDA Sumatera Barat melalui Kepala SKW II, lokasi alternatif tersebut ditentukan dengan melakukan pemeriksaan tutupan citra pada bentang lahan yang sama dengan lokasi penangkapan BR, fungsi hutan konservasi, jarak ke pemukiman dan ketersediaan areal terbuka untuk titik lepas liar. Tindaklanjut dari usulan tersebut, Kepala Balai KSDA Sumbar menerbitkan surat perintah untuk melakukan pemeriksaan pada 2 lokasi terpilih. Dalam proses pencarian lokasi lepasliar tersebut, tim juga berdiskusi dengan pihak-pihak lain yang dianggap berkompeten seperti dengan pakar dari Universitas Andalas dan Yayasan Kalaweit yang juga bergerak dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati di Sumatera Barat, proses-proses ini berlangsung sementara Bujang Ribut direhabilitasi di PR-HSD dan tim secara berkala menerima informasi menggembirakan bahwa proses rehabilitasi dilaporkan berjalan dengan lancar, kesehatan BR diinformasikan dalam kondisi optimal. Proses rapat-rapat penentuan lokasi berlangsung cukup alot, lokasi-lokasi yang disurvei sebelumnya dan usulan lokasi lain yang diusulkan dari SKW lain tidak mencapai kesepakatan, hingga awal tahun 2019, terjadi mutasi beberapa personil di lingkup SKW II Tanah Datar, salah satunya adalah Sdr. Andrick yang ditunjuk sebagai Kepala Resort Padang Pariaman setelah sebelumnya di Resort Bukittinggi, yang kebetulan pada tahun 2018 melakukan melepasliarkan Sopi Rantang (harimau sumatera konflik lainnya) di Rimbang Baling. Kepala SKW II Tanah Datar beberapa kali menggelar diskusi di tingkat SKW II untuk membahas pelepasliaran BR tersebut dan dengan tambahan tenaga dan pengetahuan yang baru, mulai membentuk tim dan mencari lokasi lepasliar di wilayah kerja SKW II Tanah Datar. Awalnya dilakukan _quick survey_ pada 2 lokasi kawasan konservasi, yaitu di SM Barisan dan TWA Singgalang Tandikat, dengan melibatkan Kepala Resort Padang Pariaman (SM Barisan) dan Kepala Resort Tanah Datar (Sdr. Ansarul, sebelumnya adalah Kepala Resort Padang Pariaman) yang membawahi kawasan TWA Singgalang Tandikat dan Resort Kota Padang sebagai lokasi asal satwa. Sehingga praktis seluruh resort di SKW II Tanah Datar ikut terlibat dalam proses pencarian lokasi lepasliar ini, karena di SKW II Tanah Datar hanya terdiri dari 3 resort. Hasil penilaian dengan dipimpin oleh Kepala Seksi ditambah dengan adanya data baru tentang populasi satwa harimau di SM Barisan, tim sepakat untuk mengusulkan kembali lokasi SM Barisan sebagai lokasi lepasliar BR dengan mempertimbangkan aspek kesesuaian lokasi, tidak ditemukan jantan lain dan ketersediaan jalan akses. Kepala SKW II mengusulkan kembali kepada Kepala Balai KSDA Sumatera Barat tentang lokasi lepasliar di SM Barisan, dan Kepala Balai KSDA Sumbar berkesempatan mengecek lokasi usulan tersebut sebelumnya, hasilnya lokasi lepasliar secara teknis cukup memadai di lokasi usulan, namun perlu dipindahkan ke lokasi lain yang sedikit lebih datar. ![](https://doc-0o-8s-docs.googleusercontent.com/docs/securesc/hef4grhgqcvea8pdujqb80f8i2h5889g/bbfg6pq27lbb2nr180tro26992occ56r/1585466700000/05326740162000837634/13758144204700382222/1_cubrg9TApBZPHnxpYYlWddXc-dz31r_?e=view&nonce=trjipneu50mlq&user=13758144204700382222&authuser=0&hash=b7i0d425lpl6tj0sst9j16ks137m7dio) **Pengecekan lapangan -** Beberapa personil anggota tim, dari kiri ke kanan: Hendra Yuriko, Aa Jusmar, Andrick, Arliosa, Ansarul, Budi Novella, Azizan, *©SKW II Tanah Datar, 2018* Tim kembali berupaya mencari lokasi yang diharapkan, hingga akhirnya berhasil menemukan lokasi lepasliar yang cukup datar, namun jalan akses ke lokasi dalam keadaan rusak parah dan selain itu untuk mencapai lokasi hanya bisa melewati wilayah pemukiman penduduk. Kelemahan pertama ditindaklanjuti dengan melakukan pembukaan jalan akses yang melibatkan hampir seluruh staf dan tenaga fungsional di SKW II Tanah Datar, hal ini dikarenakan tim tidak dapat membawa tenaga buruh dari daerah terdekat karena khawatir informasi tujuan kegiatan diketahui dan menjadi sumber keresahan masyarakat. ### Tim Kerja Pelaksanaan kegiatan lepasliar BR di kabupaten Padang Pariaman ini hampir melibatkan seluruh unsur staf dan pegawai fungsional yang ada di SKW II Tanah Datar. Tim kerja disusun sebagai berikut: Penanggungjawab: Kepala SKW II Tanah Datar Koordinator Lapangan: Kepala RKW Padang Pariaman Sedangkan bagian-bagian yang bertanggungjawab kepada koordinator disusun sebagai berikut: bagian keuangan: Adrinaldi, bagian fasiliasi masyarakat: Kepala RKW Tanah Datar, bagian pengamanan: Azizan, bagian sapu jerat dan jalur lepasliar: Aa Jusmar, bagian perlengkapan: Hendra Yuriko, bagian konsumsi: Arliosa, bagian kamera perangkap: Kepala RKW Padang dan bagian dokumentasi: Alvi Hendri. Staf dan petugas fungsional yang ada di SKW II Tanah Datar melebur dalam tim tersebut, dan dalam pelaksanaannya dilakukan bersama-sama, misalnya kegiatan pembukaan jalan yang membutuhkan sumber daya manusia paling banyak dilakukan oleh semua anggota tim. Pelaksanaan persiapan lapangan yang berlangsung hampir 2 bulan dan dilakukan secara bertahap, anggota tim yang berasal dari Batusangkar, Pariaman dan Padang berangkat dari tempat masing-masing ke Pariaman, setelah melakukan kegiatan, bagi anggota tim yang jauh biasanya menginap di kantor RKW Padang. ## Penyiapan Lapangan Setelah melakukan survei lapangan yang menyimpulkan bahwa di rencana lokasi lepasliar, populasi satwa mangsa melimpah yang ditandai dengan penemuan kotoran dan hasil pemasangan kamera perangkap selama 1 minggu. Selain itu dari hasil analisa data hasil survei harimau yang dilakukan oleh Balai KSDA Sumatera Barat tim menarik kesimpulan bahwa di sekitar daerah tersebut belum pernah ditemukan Harimau jantan, data ini juga telah dikonfirmasi kepada pakar dari Universitas Andalas yang juga pernah melakukan kegiatan sejenis dan menemukan informasi yang sama: di lokasi terdapat harimau residen, jenis kelamin dilaporkan betina. ### Pembuatan Jalan Akses Membawa mamalia besar dan buas ke habitat alaminya yang jauh dari pemukiman, menimbulkan konsekuensi ketiadaan jalan akses, jikapun tersedia, kondisinya telah rusak karena jarang digunakan dan dipelihara. Hal ini kami temui di lokasi lepasliar BR, jalan akses tersedia sebenarnya cukup besar, namun karena tidak pernah dipelihara, di tengah jalan tersebut telah ditumbuhi oleh tanaman dan pohon yang perlu dibersihkan, selain itu pada beberapa bagian jalan telah rusak parah sehingga perlu didatarkan. Di lain sisi, pilihan membawa satwa, peralatan dan personil lepas liar dengan berjalan kaki bukan merupakan pilihan yang kami pilih karena resiko yang muncul saat membawa satwa terbius terhadap satwa dan petugas, lamanya waktu pelaksanaan hingga kemungkinan bocor hingga menimbulkan kepanikan pada masyarakat. Pilihan lain untuk menggunakan helikopter untuk membawa satwa juga telah pernah dijajaki, namun terkendala karena biayanya sangat besar (antara 100 - 200 juta untuk sekali penerbangan menggunakan pesawat komersil, hanya untuk membawa satwa ditambah dengan 2-3 orang pendamping). Karena tidak ada pilihan lain dan semangat yang tinggi dari petugas lingkup SKW II Tanah Datar, tim bersepakat membuka kembali jalan akses dengan menggunakan peralatan manual karena pilihan menggunakan alat berat juga tidak dapat digunakan karena terhalang fungsi hutan (suaka margasatwa). Penggunaan tenaga buruh juga tidak dapat dilakukan dengan leluasa karena khawatir informasi pelepasliaran kembali bocor, buruh masyarakat digunakan sebagai tenaga pendamping dan menghilangkan kecurigaan masyarakat adanya kegiatan rahasia yang dilakukan Balai KSDA Sumatera Barat. Pelaksanaan kegiatan pembukaan jalan dilakukan secara berangsur-angsur, selama periode ini, seluruh kendaraan yang direncanakan akan digunakan dalam proses lepasliar telah mulai dimanfaatkan dengan harapan ketika nantinya digunakan saat proses lepas liar, masyarakat tidak terlalu heran dan curiga dengan adanya kendaraan jenis baru melewati pemukiman masyarakat. Proses pembukaan jalan meliputi kegiatan pembersihan dari semak dan pohon, pada bagian-bagian yang berlubang dalam ditimbun sedangkan pada bagian-bagian yang becek dan kendaraan rawan terperosok, badan jalan digali dan seluruh tanah lumpur dibuang. Hingga 1 minggu sebelum hari lepasliar, tim sengaja meninggalkan pekerjaan lapangan terbengkalai karena mempertimbangkan cuaca yang sedang tidak menentu, dikhawatirkan jika jalan diselesaikan dan hanya dikunjungi saat lepasliar, tidak ada waktu antisipasi yang tersedia untuk berperbaikan jika terjadi terjadi kerusakan akibat cuaca eksrim, selain itu kita tidak mengharapkan jalan yang baru dibuat digunakan oleh pihak lain. ### Pengelolaan Masyarakat Karena penyiapan lapangan tidak dilakukan setiap hari, terdapat hari-hari dimana petugas tidak berada di lapangan, namun Sdr. Ansarul yang merupakan mantan Kepala RKW Padang Pariaman diserahkan tanggungjawab pengawasan lokasi dan melaporkan perkembangan yang ada di lokasi. Selain itu selama proses pembukaan jalan akses, Sdr. Ansarul dengan pengalaman dan jaringan yang telah dibangun sebelumnya, menfasilitasi pelaksanaan kegiatan pembukaan jalan ini kepada pemuka dan masyarakat setempat, kemudian menyediakan skenario, tata waktu dan cara yang paling aman tanpa terdeteksi saat iringan satwa nantinya melewati pemukiman masyarakat. Untuk kepentingan lepasliar ini, tim menyusun skenario pelatihan lapangan bagi petugas fungsionla Polhut baru sebagai alasan untuk penyiapan jalan dan acara lepasliar disamarkan sebagai pembayatan dan pelantikan Polhut baru. ![image alt](https://doc-00-8s-docs.googleusercontent.com/docs/securesc/hef4grhgqcvea8pdujqb80f8i2h5889g/cq7q7a4acjim6j8igkivtsfqqt3urcpv/1585467075000/05326740162000837634/13758144204700382222/1CT3_H9n2DX8aT2yQOuZKe8BSwgNLxZzf?e=view&authuser=0&nonce=1jen0b4k7r91c&user=13758144204700382222&hash=k6vbnpno8hr69v44jj58o9lhq9j94m3b) **Timeframe -** Proses lepas liar Bujang Ribut dimulai sejak penangkapan hingga lepas liar Masyarakat daerah lokasi lepas liar sendiri memiliki cara pandang yang cukup positif terhadap satwa liar, jika satwa liar mengambil tanaman masyarakat, sepanjang tidak dalam jumlah besar, biasanya masyarakat tidak terlalu memperpanjang persoalan ini. Selain itu dari hasil diskusi dengan masyarakat, sebagian masyarakat memandang Harimau Sumatera sebagai _inyiak_ (nenek) yang keberadaannya dipercaya sering membantu jika ada anggota masyarakat yang tersesat atau memberi pertanda akan terjadi bencana. Walaupun tim beranggapan cara pandang masyarakat sekitar terhadap satwa liar cukup positif, namun tim tidak ingin mengambil resiko timbulnya kegaduhan dan kepanikan masyarakat jika mengetahui Harimau di lepaskan di wilayah hutan berbatasan dengan nagari, selain itu dikhawatirkan membuat image buruk terhadap kegiatan konservasi dan memperuncing hubungan antara petugas dan masyarakat sekitar di masa mendatang. ### Bencana Alam Kekhawatiran terhadap bencana terbukti, beberapa hari sebelum lepasliar, terjadi hujan besar, beberapa hektar tanaman padi masyarakat hanyut tersapu banjir besar. Jalan yang baru dibuka kembali rusak, namun dengan waktu yang tersisa tim bisa memperbaiki kerusakan yang timbul, tapi hal yang tidak terprediksi adalah terjadinya perubahan besar pada lokasi rencana lepasliar, tepi sungai yang awalnya direncanakan sebagai titik lepasliar, tidak dapat ditemui lagi karena tergerus banjir, seluruh lokasi yang direncanakan sebagai titik lepasliar telah berubah menjadi sungai. Dengan waktu yang tersedia, tim melakukan modifikasi arus sungai, menciptakan dan memperluas delta yang cukup kering untuk menempatkan kandang lepasliar dan menghubungkan delta tersebut ke jalur lepas liar yang telah dibuat pinggir sungai. Setelah persiapan yang dilakukan tim selesai dilakukan, tim melakukan konsultasi dengan tim pakar tentang lokasi lepas liar yang berada di tengah sungai dan mendapat informasi bahwa lokasi lepasliar di tengah sungai untuk satwa harimau bukan merupakan pilihan yang biasa, karena satwa ini walau dikenal bisa mencari ikan di sungai bukan satwa yang terlalu suka bermain air. Namun dengan pertimbangan waktu yang tersedia dan sebagai suatu proses pembelajaran, rencana titik lepasliar tidak diubah. ### Rapat-Rapat Persiapan Tim Selama proses penyiapan lapangan tersebut, tim secara teratur menggelar rapat-rapat persiapan untuk membahas kemajuan, permasalahan dan perubahan yang terjadi di lapangan diinformasikan kepada seluruh anggota tim, didiskusikan dan diambil keputusan tindak lanjutnya. Banyak hal yang dibahas selama rapat-rapat tersebut, seperti pembahasan metode dan hasil survei ketersediaan pakan, penentuan titik lepas, pembuatan jalur lepasliar, hingga model terpal jalur lepasliar, posisi kamera pengintai hingga pengaturan posisi setiap personil saat lepasliar telah dibahas dan diatur secara detil. Karena faktor kemudahan akses, rapat-rapat tim biasanya dilakukan di kantor RKW Padang. Rapat biasanya dipimpin oleh Kepala SKW II Tanah Datar dengan dipandu oleh Kepala RKW Padang Pariaman sebagai koordinator lapangan, tuan rumah lokasi kegiatan dan telah berpengalaman melakukan lepasliar satwa harimau sebelumnya. Pada saat rapat dilakukan pembahasan perkembangan kegiatan, permasalahan, dan kesesuaian perkembangan dengan rencana awal, beberapa rencana yang ditelah dibuat sebelumnya direvisi dan dimodifikasi disesuaikan dengan informasi dan perubahan di lapangan. Rapat tersebut biasanya diikuti oleh Kepala Resort Tanah Datar, Padang Pariaman serta kepala dan anggota dari Resort Padang sebagai tuan rumah lokasi rapat, sedangkan anggota tim lain tidak seluruhnya bisa mengikuti rapat karena faktor jarak, namun informasi pembahasan dan hasil-hasil keputusan yang dibuat disampaikan melalui grup media elektronik yang dibuat khusus untuk membahas hal ini. Catatan tentang hasil-hasil rapat, perencanaan, pengolahan data dan dokumen yang diperlukan untuk kegiatan dilakukan oleh Sdr. Budi Novella. Kepala SKW II terus melaporkan dan mengkonsultasikan hasil-hasil lapangan dan kesepakatan-kesepakatan yang dibangun dalam tim lepas liar yang terbentuk kepada Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, karena rencana disusun, dibahas dan diubah kembali sesuai dengan informasi yang berkembang dan didapatkan dari lapangan. ## Lepas Liar Rencana lepasliar, awalnya direncanakan sebelum Pemilihan Presiden RI tanggal 17 April 2019 yaitu pada tanggal 14 April 2019, namun terkendala karena kondisi lapangan tidak memungkinkan, saat itu kegiatan-kegiatan lapangan yang sifatnya pertemuan dan melibatkan banyak orang dihimbau oleh pemerintah daerah untuk dihindarkan untuk menjaga suasana kemasyarakat tetap kondusif. Setelah tanggal 17 April 2019, hasil konsultasi Kepala SKW II dengan Kepala Balai KSDA Sumbar menunjukan informasi menggembirakan, bahwa lepasliar telah dilaporkan kepada Dirjen KSDAE dan tim segera membuat rencana detil lepasliar. ### Koordinasi dengan PR-HSD Mendekati hari lepasliar, proses komunikasi dengan pihak PR-HSD semakin intensif dilakukan untuk memastikan bahwa BR dalam kondisi optimal saat dilepasliarkan, tim berupaya memberikan informasi gambaran rencana lepasliar seakurat mungkin sehingga walaupun tim dari PR-HSD tidak sempat mendatangi lokasi, gambaran kondisi lapangan yang diberikan diharapkan dapat menjadi pedoman untuk mempersiapkan BR dengan baik. Kita juga sangat terbantu karena PR-HSD mampu mengadakan sendiri _gps collar_ dan memasang alat tersebut sebagai bahan monitoring paska lepasliar. ### Tata Waktu Lepasliar dilaksanakan tanggal 23 April 2019, sedangkan tim lapangan telah berada di lapangan sejak tanggal 22 April 2019, menyelesaian persiapan lokasi dan menjalankan rencana lepasliar sesuai denga skenario yang telah dibuat. Tim membuat jadwal proses lepasliar mengikut rencana sebagai berikut: **22 April 2019 (pukul dalam WIB)** 1. 14:00-15:00 WIB: Berangkat ke Asam Pulau dari RKW Pdg 2. 15:00-16:30 WIB: Memasang tenda 2. 16:30-17:00 WIB: Apel 2. 17:00-18:00 WIB: Memasang terpal (persiapan rilis selesai) 2. 20:00-22:00 WIB: Acara malam 2. 22:00-24:00 WIB: Istirahat **23 April 2019** 1. 00:00-02:30 WIB: Istirahat dan pengawasan jalur pengangkutan satwa 2. 02:30-05:30 WIB: Pengawalan BR, pengamanan lokasi dan pengawalan undangan 2. 05:30-06:30 WIB: Persiapan lepas dan pelepasliaran 2. 07:00-08:00 WIB: Siaga, pembersihan lokasi dan pengambilan kamera 2. 09:00-10:00 WIB: Persiapan kembali ke Padang Mengingat bahwa pengankutan satwa ke lokasi lepasliar dilakukan antara pukul 02:30 hingga pukul 03:30, satwa diharapkan telah sampai di RKW Padang paling lambat pukul 24:00 WIB tanggal 22 April 2019, untuk selanjutnya menunggu kondisi jalan cukup kondusif untuk dilewati. Tamu undangan (Ka Balai KSDA Sumbar dan Universitas Andalas) telah berada di kantor RKW Padang untuk bersama-sama menuju lokasi dengan dipandu oleh petugas lapangan. ### Lepas Liar Lepasliar dilakukan sekitar pukul 08:00 WIB, proses lepasliar berjalan dengan baik, tanpa kendala berarti. Menurut catatan kami, satwa berlari setelah pintu kandang dibuka kurang dari 44 detik, dan BR dapat dilihat posisi pengamatan berjalan dengan tenang menuju habitatnya yang baru, hingga tulisan ini dibuat, momen tersebut adalah terakhir kali kami melihat satwa tersebut dan kami berharap bahwa _si Bujang_ (panggilan kesayangan dari tim PR-HSD) dapat hidup dengan baik di kawasan konservasi dan tim tidak perlu berjumpa dengan Bujang Ribut lagi. ## Paska lepasliar ### Evaluasi dan Monitoring paska lepasliar Setelah seluruh tim kembali ke kota Padang, dengan dipimpin oleh Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, dilakukan evaluasi terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan lepasliar dengan melibatkan seluruh peserta lepasliar, hasil evaluasi menunjukkan bahwa proses lepasliar berlangsung dengan baik dan lancar dan diharapkan proses monitoring terhadap satwa yang baru dilepasliarkan dilakukan dengan melibatkan pihak PR-HSD dan Balai KSDA Sumatera Barat. _GPS collar_ yang terpasang tidak mengirimkan data posisi satwa hingga malam hari, dengan mempertimbangkan sehingga akhirnya tim kemudian memutuskan keesokan harinya untuk mengecek kembali ke lokasi lepasliar. _GPS collar_ ditemukan terlepas sekitar 500 m dari lokasi lepasliar, tim bersepakat mengganti sistem monitoring dengan menggunakan sistem kamera perangkap, pemeriksaan dengan pesawat tanpa awak dan mengembangkan pengumpulan informasi dari masyarakat sekitar tentang perjumpaan dengan satwa harimau. 10 buah Kamera perangkap dipasang di sekitar lokasi lepasliar untuk memastikan pergerakan satwa di sekitar lokasi lepasliar. Hasil pemeriksaan pesawat tanpa awak yang diterbangkan di sekitar lokasi juga tidak menemukan keberadaan satwa. ### Konflik Harimau Setelah Lepasliar Satu minggu setelah lepasliar, Kepala RKW Padang Pariaman menerima laporan bahwa masyarakat daerah sekitar lokasi lepasliar melaporkan beberapa kali perjumpaan dengan satwa harimau sumatera, salah satu kejadian yang dilaporkan adalah seorang anggota masyarakat yang sedang menebang kayu di hutan dikejutkan oleh suara harimau, satwa dilaporkan mengintimidasi, beruntung warga tersebut dapat menyelamatkan diri dengan memanjat pohon, satwa dilaporkan menunggu di bahwa pohon hingga 1-2 jam. Ketika tim di lokasi, suasana memanas, terdapat isu tidak jelas bahwa satwa harimau dilepas oleh Balai KSDA Sumbar untuk menakuti masyarakat berladang di hutan, tim menjelaskan bahwa hal tersebut tidak benar dan akan membantu masyarakat untuk menangani konflik yang terjadi. Selain itu dijelaskan juga prosedur dan mekanisme penanganan konflik manusia - satwa liar yang akan ditempuh, untuk sementara direncanakan akan dilakukan pengusiran dengan menembakkan meriam, pemasangan kamera perangkap untuk mengetahui pergerakan satwa dan patroli oleh petugas. Tim yang didampingi tenaga dokter hewan dari PR-HSD bersama-sama dengan masyarakat pelapor mengunjungi lokasi kejadian yang berjarak <u>+</u> 2 km dari lokasi lepasliar, jejak satwa tidak terlalu jelas dan menemukan bekas gigitan pada jerigen minyak yang menurut pengakuan pelapor adalah bekas gigitan harimau, setelah memeriksa wilayah sekitar tim juga menemukan sepasang jejak yang relatif baru dan kondisinya masih bagus, satwa diduga harimau betina. Tim memasang kamera perangkap untuk mengawasi pergerakan satwa. Tim kemudian melakukan patroli ke wilayah sekitar dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan harimau dan mengecek laporan informasi lain yang diterima dengan hasil bahwa perjumpaan yang dilaporkan (tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya) berupa perjumpaan tanpa insiden. Hari berikutnya tim menerima informasi perjumpaan lain, satwa dilaporkan terlihat dan berjalan melintasi jalan di kompleks pembangkit listrik, tim kemudian mendatangi lokasi, memeriksa jejak dan memperkirakan arah pergerakan satwa, berjaga dan memasang kamera perangkap. Kamera perangkap yang dipasang, datanya diperiksa setiap hari, namun tidak menemukan satwa harimau, yang diartikan sebagai bahwa satwa masih bergerak berusaha mencari lokasi habitat yang cocok. Penjagaan dan pemeriksaan data kamera perangkap terus, setelah laporan kejadian di pembangkit listrik, tidak ada informasi perjumpaan satwa yang terkonfirmasi, sementara laporan yang masuk terus menunjukkan trend menurun. 1 bulan setelah kejadian, setelah mengkonfirmasi semua laporan yang masuk, data kamera dan hasil penjagaan tim berpendapat bahwa konflik telah berakhir, satwa telah kembali ke habitatnya dan kegiatan penanganan konflik di daerah tersebut dihentikan. ## Pembelajaran 1. Pelaksanaan kegiatan konservasi keanekaragaman hayati perlu 2. Hasil lepasliar menenjukkan bahwa harimau sumatra (dalam kasus kami) dapat dilepasliarkan pada arel yang sedikit basah dan lokasi datar tidak terlalu panjang, 3. Kami memodifikasi model pemasangan terpal yang digunakan untuk mengarahkan satwa ke jalur lepasliar dari sebelumnya berbentuk jalur tertutup menjadi melebar, hasilnya dinilai cukup baik, terbukti dari satwa dengan segera keluar dari perangkap sesaat setelah pintu kandang dibuka, menurut hemat kami hal ini karena pemandangan keluar yang lepas dan bebas, satwa tidak ragu untuk segera keluar kandang. 4. Proses rehabilitasi terhadap satwa harimau sumatera kami nilai cukup berhasil, terbukti dari postur, gerakan dan suara satwa saat dalam kandang dan lepasliar terlihat cekatan, agresif dan alami. Konflik yang terjadi setelah lepasliar diduga karena ada goncangan di ekosistem alami paska lepasliar, memasukkan satwa _top predator_ ke ekosistem alami tentunya berpengaruh besar pada keseimbangan yang telah ada, selain itu satwa yang baru dilepasliarkan akan berusaha menjelajah seluruh habitat yang tersedia untuk menemukan lokasi yang paling cocok untuknya. Konflik yang terjadi adalah hal yang wajar dan menurut hemat kami paska lepasliar, tim penanganan harus segera ditunjuk, tim berfokus 5. Lepasliar satwa hasil rehabilitasi ke habitat alaminya kembali merupakan upaya luar biasa dari berbagai pihak yang terlibat, namun dalam pelaksanaan ###### tags: `Harimau` `Buku`