# [Dimas's] Tracklist Dashboard Tugas Section 2 :::info Open Recruitment Mobilecomm Lab [Celullar Network Division 2025/2026]. ::: ## :book: Dimas's Information :::success Mahasiswa S1 Teknik Telekomunikasi di Telkom University Sebagai mahasiswa yang berfokus pada jaringan telekomunikasi, saya memiliki pengalaman dalam study group mengenai jaringan seluler di Mobcom Laboratory dan partisipasi dalam workshop 5G Outdoor Planning. Berkomitmen untuk mendalami dunia perencanaan jaringan, dengan tujuan karir sebagai Planner Cellular Network. Memiliki keterampilan teknis yang kuat dalam merancang dan menganalisis infrastruktur jaringan telekomunikasi modern, serta antusiasme untuk berkontribusi pada perkembangan teknologi 5G`` ::: ### :small_blue_diamond: Name : Dimas Rozi Santoso ### :small_blue_diamond: Email : dimasrozisan@gmail.com ### :small_blue_diamond: NIM : 101012300402 --- ## 1. Overview 4G (LTE, LTE-A) ### 1.1 Pengertian LTE dan LTE Advanced adalah teknologi seluler yang diluncurkan sebagai bagian dari komunikasi seluler generasi keempat. Ketika LTE diperkenalkan pertama kali pada tahun 2009, teknologi LTE telah menawarkan kemampuan teknis yang memberikan dasar bagi LTE untuk berkembang seiring berjalannya waktu. Kerangka kerja ini memperkenalkan peningkatan jaringan seperti LTE Advanced dan LTE Advanced Pro untuk secara signifikan meningkatkan kecepatan data. LTE pada dasarnya merupakan teknologi seluler fundamental yang mendasari LTE Advanced dan LTE Advanced Pro. Peluncuran awal LTE mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh organisasi standar 3GPP (Third Generation Partnership Project) dalam rilis 3GPP 8. Pekerjaan akan diteruskan dalam rilis berikutnya, Rilis 9, untuk membangun dasar yang kuat bagi jaringan LTE. Sumber: https://commsbrief.com/lte-vs-lte-advanced-is-4g-lte-different-from-lte-advanced/ ### 1.2 LTE Vs LTE-A | | LTE | LTE-A | | -------- | -------- | -------- | | Bandwidth yang didukung | 1,4MHz, 3MHz, 5MHz, 10MHz, 15MHz dan 20MHz | 1,4MHz, 3MHz, 5MHz, 10MHz, 15MHz dan 20MHz | | Agregasi operator | Tidak ada | Kemampuan untuk menggabungkan hingga lima (5) pembawa frekuensi | | Modulasi Amplitudo Kuadratur (QAM) | Kuadratur (QAM) QPSK, 16 QAM, 64 QAM | 256 QAM | | Konfigurasi antena MIMO (Multiple Input Multiple Output) |Tautan Turun MIMO 4×4; Tautan Naik 2×2 |Tautan Turun MIMO 8×8; Tautan Naik 4×4 | Sumber: https://commsbrief.com/lte-vs-lte-advanced-is-4g-lte-different-from-lte-advanced/ --- ## 2. 3GPP Release 8-14 ![image](https://hackmd.io/_uploads/H1Od7n7Oyx.png) Sumber: https://www.cablefree.net/wirelesstechnology/4glte/overview-of-lte-3gpp-releases/ ### 2.1 Release 8: LTE Diperkenalkan (2008) LTE diperkenalkan untuk pertama kalinya pada Release 8 sebagai teknologi berbasis **All-IP Network** yang menggunakan OFDMA (Orthogonal Frequency Division Multiple Access) untuk downlink dan SC-FDMA (Single Carrier-FDMA) untuk uplink. Kombinasi ini dirancang untuk memberikan efisiensi spektral tinggi dan latensi rendah, mencapai latensi 5 ms dalam kondisi ideal. LTE mendukung bandwidth fleksibel dari 1.4 MHz hingga 20 MHz, dengan kecepatan data maksimum mencapai **300 Mbps untuk downlink** dan **75 Mbps untuk uplink**, menggunakan konfigurasi 4x4 MIMO (Multiple Input Multiple Output). Arsitektur ini juga memungkinkan operasi pada spektrum FDD (Frequency Division Duplex) dan TDD (Time Division Duplex), menjadikannya fleksibel untuk berbagai aplikasi global. ### 2.2 Release 9: Peningkatan LTE (2009) Release 9 memperkenalkan **PWS (Public Warning System)**, yang menambahkan CMAS (Commercial Mobile Alert System) untuk memberikan peringatan bencana secara real-time, melengkapi ETWS (Earthquake and Tsunami Warning System) dari Release 8. Teknologi **Femto Cell** diperkenalkan sebagai solusi small cell yang meningkatkan cakupan dalam ruangan, terhubung ke jaringan utama melalui koneksi broadband. **eMBMS (Enhanced Multimedia Broadcast Multicast Services)** memungkinkan siaran multimedia lebih efisien dengan meningkatkan kapasitas dan throughput. Selain itu, **SON (Self Organizing Network)** menyediakan otomatisasi konfigurasi dan optimasi jaringan, serta **LTE Positioning** menambahkan metode pelacakan lokasi seperti A-GPS, OTDOA (Observed Time Difference of Arrival), dan E-CID (Enhanced Cell ID) untuk meningkatkan akurasi lokasi dalam situasi darurat. ### 2.3 Release 10: LTE-Advanced (2011) LTE-Advanced pada Release 10 memenuhi standar **IMT-Advanced** dengan kecepatan hingga **1 Gbps untuk downlink** dan **500 Mbps untuk uplink**, mendukung aplikasi data intensif. **Carrier Aggregation** diperkenalkan untuk menggabungkan hingga lima carrier dengan bandwidth total hingga 100 MHz, memungkinkan penggunaan spektrum yang terfragmentasi secara lebih efisien. Teknologi **MIMO (Multiple Input Multiple Output)** ditingkatkan menjadi hingga 8x8 untuk downlink dan 4x4 untuk uplink, meningkatkan kapasitas data secara signifikan. **Relay Nodes** memperluas cakupan di area dengan sinyal lemah tanpa memerlukan kabel tambahan. **eICIC (Enhanced Inter-Cell Interference Coordination)** mengurangi interferensi pada jaringan heterogen, mendukung komunikasi antara macro cell dan small cell secara efisien. ### 2.4 Release 11: Peningkatan LTE-Advanced (2012) Release 11 membawa peningkatan signifikan pada **Carrier Aggregation**, termasuk dukungan untuk **intra-band non-contiguous carrier aggregation**, yang memungkinkan penggabungan carrier tidak bersebelahan dalam spektrum yang sama. Teknologi **CoMP (Coordinated Multipoint)** memungkinkan stasiun pemancar berbagi beban data meskipun tidak saling bersebelahan, meningkatkan throughput di area padat. **ePDCCH (Enhanced Physical Downlink Control Channel)** meningkatkan kapasitas kanal kontrol dengan menggunakan sumber daya PDSCH. **Minimization of Drive Tests (MDT)** mengurangi kebutuhan pengujian lapangan dengan menggunakan data dari perangkat pengguna untuk optimasi jaringan. Solusi untuk **In-Device Coexistence** diperkenalkan untuk mengurangi interferensi antara teknologi multi-radio seperti LTE, Wi-Fi, dan Bluetooth. ### 2.5 Release 12: Peningkatan Lanjutan LTE-Advanced (2014) Release 12 memperkenalkan optimasi pada **small cells**, termasuk **dual connectivity**, yang memungkinkan inter-site carrier aggregation antara macro cell dan small cell untuk meningkatkan kapasitas di area dengan kepadatan pengguna tinggi. **MTC (Machine Type Communication)** mendukung perangkat IoT dengan pengurangan overhead signaling dan konsumsi daya. **Integrasi Wi-Fi dengan LTE** memungkinkan pengalihan trafik yang efisien antara LTE dan Wi-Fi, memberikan fleksibilitas operator dalam pengelolaan jaringan. Selain itu, **LTE di spektrum tak berlisensi** diperkenalkan untuk memanfaatkan spektrum bebas guna meningkatkan kapasitas jaringan. ### 2.6 Release 13: Memenuhi Permintaan Throughput yang Meningkat (2015) Release 13 meningkatkan **Carrier Aggregation** hingga 32 component carrier (CC), memungkinkan bandwidth total yang jauh lebih besar untuk memenuhi kebutuhan aplikasi data besar. Peningkatan pada **MTC** termasuk pengenalan kategori UE baru dengan konsumsi daya rendah dan bandwidth sempit, yang dirancang khusus untuk perangkat IoT dengan kebutuhan baterai panjang. **Indoor Positioning** disempurnakan untuk meningkatkan akurasi pelacakan dalam ruangan menggunakan metode baru. Peningkatan pada teknologi **MIMO** mendukung sistem dengan hingga 64 antena, membuka jalan bagi implementasi skala besar pada jaringan masa depan. ### 2.7 Release 14: Awal Standarisasi 5G Release 14 menandai transisi menuju 5G dengan memperkenalkan standar akses radio baru yang dikenal sebagai **NX (New Radio)**, yang dirancang untuk beroperasi pada spektrum tinggi hingga hampir 100 GHz, selain spektrum LTE yang sudah ada. Fokus pada **low-latency communication** dan **spectrum flexibility** menciptakan landasan untuk jaringan ultra-cepat dengan kapasitas tinggi. Standar ini juga mengintegrasikan teknologi multi-antenna dan multi-site transmission, memberikan efisiensi tinggi untuk jaringan generasi berikutnya. Sumber: https://www.cablefree.net/wirelesstechnology/4glte/overview-of-lte-3gpp-releases/ --- ## 3. LTE Flat Architecture ![image](https://hackmd.io/_uploads/Hkvbocb_Je.png) 1. **LTE-UE (User Equipment)** Perangkat pengguna seperti smartphone atau tablet yang digunakan untuk berkomunikasi dengan jaringan LTE. LTE-UE bertanggung jawab mengirim dan menerima data melalui antarmuka radio (LTE-Uu) dan bergantung pada infrastruktur jaringan untuk menyediakan akses ke layanan seperti internet dan komunikasi suara berbasis IP. 2. **eNodeB (Evolved Node B)** Komponen jaringan radio yang mengatur koneksi langsung antara LTE-UE dan EPC. eNodeB menangani fungsi seperti manajemen sumber daya radio, penjadwalan, dan pengendalian kualitas layanan (QoS). Selain itu, eNodeB mengelola transfer data pengguna melalui antarmuka S1-U dan sinyal kontrol melalui S1-MME. 3. **MME (Mobility Management Entity)** Komponen kontrol utama yang mengelola otentikasi pengguna, manajemen mobilitas antar eNodeB, dan pengaturan *bearer* (jalur data). MME juga bertanggung jawab untuk komunikasi dengan HSS melalui antarmuka S6a guna mengambil informasi pelanggan dan mendukung fungsi keamanan jaringan. 4. **SGW (Serving Gateway)** Berfungsi sebagai gerbang yang menangani lalu lintas data pengguna antara eNodeB dan PGW. SGW memastikan kelancaran transfer data selama perpindahan perangkat antar eNodeB (handover) dan menyimpan informasi terkait sesi data aktif untuk perangkat yang terhubung. 5. **PGW (Packet Gateway)** Komponen yang menyediakan akses ke jaringan eksternal atau PDN (Packet Data Network). PGW menangani pengalamatan IP, kebijakan QoS, dan pengaturan rute data. Selain itu, PGW memastikan bahwa lalu lintas data pengguna diarahkan ke jaringan eksternal yang tepat melalui antarmuka SGi. 6. **HSS (Home Subscriber Server)** Basis data pusat yang menyimpan informasi pelanggan, seperti identitas pengguna, kunci otentikasi, profil langganan, dan kebijakan layanan. HSS mendukung fungsi otentikasi dan membantu MME dalam proses pengaturan layanan sesuai dengan profil pelanggan. 7. **PCRF (Policy and Charging Rules Function)** Komponen yang menentukan kebijakan QoS dan aturan pengisian biaya untuk layanan data. PCRF memastikan bahwa layanan berjalan sesuai kebutuhan pengguna dan aplikasi, serta mendukung kontrol tarif yang dinamis berdasarkan parameter jaringan dan penggunaan. 8. **GGSN (Gateway GPRS Support Node)** Elemen jaringan yang digunakan pada teknologi 2G dan 3G untuk memberikan akses ke PDN. Dalam EPS, GGSN terhubung untuk mendukung kompatibilitas dengan jaringan lama, seperti GERAN dan UTRAN, memastikan integrasi antara teknologi LTE dan jaringan lama. 9. **LTE-Uu** Antarmuka radio antara LTE-UE dan eNodeB. Melalui LTE-Uu, perangkat pengguna dapat mengirimkan data ke jaringan dan menerima data dari jaringan. Antarmuka ini dirancang untuk mendukung komunikasi data dengan kecepatan tinggi dan latensi rendah. 10. **S1-MME** Jalur komunikasi antara eNodeB dan MME yang digunakan untuk pertukaran sinyal kontrol, seperti otentikasi perangkat, pengelolaan mobilitas, dan pengaturan koneksi. S1-MME memastikan kelancaran komunikasi antar elemen kontrol di jaringan EPC. 11. **S1-U** Antarmuka data yang menghubungkan eNodeB dengan SGW. S1-U bertanggung jawab untuk mengangkut lalu lintas data pengguna antara perangkat pengguna dan EPC, mendukung layanan data dengan efisiensi tinggi. 12. **S5/S8** Antarmuka yang menghubungkan SGW dengan PGW, di mana S5 digunakan untuk koneksi dalam jaringan LTE lokal, sementara S8 digunakan untuk roaming internasional. Antarmuka ini memastikan lalu lintas data pengguna diarahkan dengan benar antara jaringan inti dan gateway eksternal. 13. **S6a** Jalur komunikasi antara MME dan HSS yang digunakan untuk otentikasi pengguna dan pengambilan informasi pelanggan. Antarmuka ini memungkinkan MME mengakses data pelanggan yang disimpan di HSS untuk memberikan layanan yang sesuai. 14. **SGi** Antarmuka yang menghubungkan PGW dengan jaringan eksternal atau PDN, seperti internet. Melalui SGi, data pengguna dapat dirutekan ke tujuan akhir, seperti situs web, server aplikasi, atau layanan cloud. 15. **S3 dan S4** Antarmuka yang digunakan untuk interkoneksi dengan jaringan lama, seperti GERAN dan UTRAN. S3 menghubungkan SGSN dengan MME untuk manajemen mobilitas, sedangkan S4 menghubungkan SGSN dengan SGW untuk mendukung transfer data antar generasi jaringan. Sumber: *Materi Perkuliahan Siskomber* --- ## 4. MIMO ![image](https://hackmd.io/_uploads/r16P8sZuye.png) ### 4.1 Pengertian MIMO merupakan singkatan dari Multiple Input Multiple Output, dan ini adalah teknologi antena yang meningkatkan kualitas sinyal yang Anda terima di ponsel Anda. Namun, implementasi MIMO kompleks dalam jaringan seluler dan membutuhkan perangkat keras tambahan di sisi pengirim maupun penerima. ### 4.2 Multiple Input Bagian multiple input dari MIMO berkaitan dengan jumlah antena di sisi pengirim. Alih-alih hanya memanfaatkan satu antena di pemancar, dengan MIMO, memungkinkan penggunaan 2, 4, 8, atau bahkan lebih banyak antena. Penggunaan antena tambahan memungkinkan transmisi beberapa aliran sinyal identik ke penerima (seperti ponsel 4G atau router 4G) untuk meningkatkan kinerja sinyal secara keseluruhan. ### 4.3 Multiple Output Bagian multiple output dari MIMO berkaitan dengan jumlah antena yang ada di sisi penerima. Alih-alih hanya memanfaatkan satu antena untuk menerima berbagai aliran sinyal dari pemancar, penerima Anda (seperti ponsel) bisa menggunakan beberapa antena untuk menangkap aliran sinyal yang berbeda. Contohnya, ponsel Anda bisa dilengkapi dengan 2, 4, 8 atau bahkan lebih antena untuk menangkap berbagai jenis sinyal. ### 4.4 MIMO antenna Configuration Pemasangan antena dan penghubungan beberapa antena pemancar dan penerima adalah suatu proses yang kompleks. Bergantung pada tujuan penggunaan teknologi konektivitas, keputusan mengenai jumlah antena untuk pemancar dan penerima diambil dengan cermat. Di sinilah peran konfigurasi antena untuk MIMO menjadi penting. Apabila pemancar dilengkapi empat antena dan penerima memiliki dua antena, maka konfigurasi MIMO menjadi 4 x 2. Terdapat dua saluran komunikasi dalam jaringan seluler, yaitu uplink dan downlink. MIMO dikelola secara berbeda dalam uplink dan downlink. Contohnya, adalah mungkin untuk memiliki 4 x 2 di downlink (untuk pengunduhan) dan 2 x 2 di uplink (untuk pengunggahan). Teknologi yang berhubungan dengan MIMO adalah SISO yang memanfaatkan satu antena pada pemancar dan penerima. | LTE Technology | 3GPP Release | Antenna Configuration (MIMO) | | -------- | -------- | -------- | | LTE | Release 8 | 4 x 4 Downlink & 2 x 2 Uplink | | LTE Advanced | Release 10 |8 x 8 Downlink & 4 x 4 Uplink | | LTE Advanced Pro | Release 13 | 8 x 8 Downlink & 4 x 4 Uplink | ### 4.5 Teknik 1. **Spatial Multiplexing** Spatial multiplexing adalah teknik utama MIMO yang memungkinkan pengiriman beberapa aliran data independen melalui antena yang berbeda. Dengan teknik ini, throughput data dapat meningkat secara signifikan karena data dapat dikirim secara paralel melalui jalur yang berbeda. Teknik ini bekerja paling baik dalam kondisi saluran dengan kualitas tinggi dan jarak pandang (LoS). 2. **Diversity** Teknik diversity dalam MIMO mengirimkan salinan sinyal yang sama melalui beberapa antena. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keandalan sinyal, terutama dalam lingkungan dengan multipath fading. Dengan menggabungkan sinyal dari beberapa jalur transmisi, penerima dapat memilih sinyal terbaik, sehingga mengurangi kemungkinan hilangnya informasi. 3. **Beamforming** Beamforming menggunakan beberapa antena untuk memfokuskan energi sinyal ke arah perangkat tertentu, meningkatkan kekuatan sinyal yang diterima dan mengurangi interferensi ke pengguna lain. Teknik ini sangat bermanfaat dalam kondisi jaringan padat, di mana interferensi dapat menjadi masalah utama. Beamforming juga meningkatkan pengalaman pengguna dengan menyediakan koneksi yang lebih stabil dan kuat. ### 4.6 Jenis-Jenis MIMO 1. **Single-User MIMO (SU-MIMO)** Teknologi ini memungkinkan satu perangkat pengguna untuk menerima beberapa aliran data simultan dari stasiun basis melalui beberapa antena. SU-MIMO secara khusus dirancang untuk meningkatkan kecepatan data yang diterima oleh satu pengguna. Teknik ini efektif untuk meningkatkan throughput data pengguna individu dalam kondisi jaringan yang ideal, seperti ketika terdapat sedikit interferensi dan pengguna berada di area dengan sinyal kuat. 2. **Multi-User MIMO (MU-MIMO)** Teknologi ini memungkinkan stasiun basis untuk melayani beberapa perangkat pengguna secara bersamaan menggunakan aliran data terpisah untuk setiap perangkat. MU-MIMO meningkatkan kapasitas sistem dengan mendistribusikan sumber daya spektrum secara efisien di antara banyak pengguna. Dengan demikian, lebih banyak perangkat dapat dilayani dalam satu waktu tanpa mengorbankan kecepatan data. Sumber: https://commsbrief.com/mimo-in-lte-what-is-multiple-input-multiple-output-in-4g/ --- ## 5. OFDM, OFDMA, SC-FDMA ### 5.1 OFDM ![Desain tanpa judul (1)](https://hackmd.io/_uploads/Hy4AC2W_Jx.jpg) OFDM adalah sebuah teknik transmisi yang menggunakan beberapa buah frekuensi (multicarrier) yang akan dilewatkan kedalam beberapa subcarrier sempit yang saling tegak lurus atau orthogonal. OFDM membagi user dengan penjadwalan yang sedemikian rupa dan selalu kedalam domain waktu secara utuh, sedangkan OFDMA membagi user dengan penjadwalan dalam domain waktu dan frekuensi secara bersamaan. Sumber https://repository.ittelkom-pwt.ac.id/5666/26/BAB%20II.pdf ### 5.2 OFDMA ![image](https://hackmd.io/_uploads/By7Lg6Wukg.png) OFDMA merupakan sistem multi-carrier di mana setiap simbol data dikirimkan melalui satu subcarrier. Dalam OFDMA, beberapa simbol QPSK dikirim secara bersamaan, dengan satu simbol data untuk setiap subcarrier. Ini memungkinkan pengiriman data yang efisien dan tahan gangguan, tetapi dapat menyebabkan PAPR (Reak to Average Ratio) yang lebih tinggi. Sumber: https://www.rfwireless-world.com/Articles/difference-between-SC-FDMA-and-OFDMA.html ### 5.3 SC-FDMA ![image](https://hackmd.io/_uploads/BJURgT-u1e.png) SC-FDMA adalah sistem single-carrier di mana setiap simbol QPSK ditransmisikan melalui subcarrier dengan bandwidth yang lebih lebar. SC-FDMA mengirimkan simbol QPSK secara seri dengan kecepatan empat kali lipat dibandingkan OFDMA. Meskipun panjang simbol tetap sama pada kedua teknik (sekitar 66,7 μS), simbol SC-FDMA mengandung lebih dari satu subsimbol yang mewakili simbol data QPSK. Keuntungan utama SC-FDMA adalah PAPR yang lebih rendah, yang sama dengan simbol data QPSK asli. Sumber: https://www.rfwireless-world.com/Articles/difference-between-SC-FDMA-and-OFDMA.html --- ## 6. Cyclic Prefix ![image](https://hackmd.io/_uploads/BkCPV37_Je.png) Sumber: https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1354122&val=955&title=ANALISIS+UNJUK+KERJA+CODED+OFDM+MENGGUNAKAN+KODE+CONVOLUTIONAL+PADA+KANAL+AWGN+DAN+RAYLEIGH+FADING ### 6.1 Pengertian Cyclic prefix adalah salinan dari bagian akhir simbol OFDM yang ditambahkan di bagian awal simbol itu sebagai guard interval untuk menghindari interferensi antarsimbol pada saluran multipath. Dengan adanya salinan ini, penerima dapat melaksanakan proses demodulasi FFT secara lengkap tanpa tumpang tindih antar simbol, sehingga menghilangkan ISI (Intersymbol Interference). Sumber: https://repositori.telkomuniversity.ac.id/home/catalog/id/92854/slug/analisis-pengaruh-panjang-cyclic-prefix-terhadap-kinerja-ofdm-pada-lte.html ### 6.2 Fungsi dan Prinsip Kerja 1. **Mencegah ISI** Kanal multipath membuat sebagian sinyal mengalami keterlambatan, yang dapat menumpuk pada simbol berikutnya (ISI). Dengan menambahkan cyclic prefix, sinyal tertunda tetap jatuh pada bagian prefix saja. Pada penerima, bagian prefix yang telah terdistorsi akan dibuang sehingga simbol inti tetap terjaga keutuhannya. 2. **Menjaga Orthogonality** Agar subcarrier pada OFDM tetap orthogonal, bagian akhir simbol OFDM yang di-copy ke awal harus sesuai panjangnya dengan guard interval, sehingga setiap multipath menawarkan sinyal yang masih berada dalam satu siklus sinusoidal ketika sampai di penerima. 3. **Durasi Cyclic Prefix** Panjang cyclic prefix ditentukan lebih besar atau sama dengan delay spread kanal, supaya multipath yang lebih panjang dari CP tidak menyebabkan overlapping antar simbol. Semakin panjang CP, semakin baik performansi dalam mengatasi delay yang besar namun kapasitas dan efisiensi spektral akan berkurang karena overhead yang bertambah. Sumber: https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1354122&val=955&title=ANALISIS+UNJUK+KERJA+CODED+OFDM+MENGGUNAKAN+KODE+CONVOLUTIONAL+PADA+KANAL+AWGN+DAN+RAYLEIGH+FADING ### 6.3 Jenis-Jenis Cyclic Prefix dalam LTE 1. **Normal (Short) Cyclic Prefix** Normal cyclic prefix memiliki durasi sekitar 4.7 µs untuk enam simbol OFDM dan 5.2 µs khusus simbol OFDM pertama di setiap slot. Struktur ini menampung tujuh simbol OFDM per slot pada mode FDD untuk LTE. 2. **Extended (Long) Cyclic Prefix** Extended cyclic prefix memiliki durasi lebih panjang, sehingga jumlah simbol OFDM per slot menjadi enam. CP tipe ini cocok untuk kanal dengan penyebaran multipath yang lebih besar, tetapi mengorbankan efisiensi bandwidth karena jumlah simbol OFDM yang dapat dikirim berkurang. ### 6.4 Pengaruh Panjang Cyclic Prefix Terhadap Kinerja 1. **Nilai BER (Bit Error Rate)** Semakin panjang cyclic prefix, penumpukan multipath yang melebihi CP dapat dihindari dan menurunkan BER. Namun, terlalu panjang akan mengurangi waktu transmisi efektif setiap simbol dan mengurangi throughput sistem. 2. **Efisiensi Spektral** Penambahan durasi guard interval berarti menambah overhead. Jika kanal tidak terlalu banyak mengalami delay spread, penggunaan CP yang terlalu panjang menjadi tidak efisien. 3. **Kompleksitas dan Daya** Meskipun menurunkan kemungkinan ISI, penggunaan CP yang panjang menuntut daya transmisi dan proses komputasi yang lebih besar karena rentang waktu simbol menjadi lebih lama. Hal ini perlu diseimbangkan dengan kondisi kanal yang sedang dihadapi. ### 6.5 Implementasi pada Jaringan Seluler Pada jaringan seluler seperti LTE atau 5G, pemilihan panjang cyclic prefix menyesuaikan profil kanal multipath dan kebutuhan kapasitas. Sistem LTE menyediakan dua pilihan (short dan long CP), sementara sistem 5G juga mengadopsi pendekatan OFDM dengan berbagai numerologi dan pemilihan CP sesuai skenario trafik serta kondisi propagasi untuk mempertahankan kualitas layanan. Dengan demikian, penggunaan cyclic prefix pada jaringan seluler menjadi salah satu faktor kunci dalam mempertahankan performa transmisi OFDM di tengah multipath fading yang berubah-ubah. Pemahaman teknis yang tepat tentang mekanisme CP serta penyesuaian durasi CP terhadap delay spread kanal sangat penting untuk mencapai rasio error kecil tanpa mengorbankan efisiensi penggunaan sumber daya. --- ## 7. Adaptive Modulation ![Desain tanpa judul (1)](https://hackmd.io/_uploads/ryNER8Guyg.png) Adaptive modulation pada LTE merupakan teknik untuk menyesuaikan skema modulasi dengan kondisi kanal radio sehingga pengiriman data menjadi lebih efisien dan andal. Melalui pemantauan kualitas sinyal secara real-time, sistem dapat mengubah tipe modulasi sesuai dengan perubahan sinyal di lapangan, sehingga gangguan error dapat berkurang dan throughput dapat meningkat. Sumber: https://www.researchgate.net/publication/274573467_Adaptive_Modulation_and_Coding_for_LTE_Wireless_Communication ### 7.1 Prinsip Kerja 1. **Pemantauan Kualitas Saluran** Pemantauan kualitas saluran adalah langkah pertama dalam proses AMC, yang dilakukan oleh perangkat pengguna (User Equipment atau UE) untuk mengukur kondisi saluran radio secara real-time. UE akan memantau parameter penting seperti Signal-to-Noise Ratio (SNR) dan Signal-to-Interference-plus-Noise Ratio (SINR), yang menggambarkan kualitas saluran dalam hal kekuatan sinyal dibandingkan dengan gangguan dan noise yang ada. Berdasarkan hasil pengukuran ini, UE mengirimkan informasi saluran yang disebut Channel Quality Indicator (CQI) ke stasiun basis (eNodeB). CQI ini mencerminkan kualitas saluran secara numerik, yang kemudian digunakan oleh eNodeB untuk menyesuaikan teknik transmisi, sehingga setiap pengguna mendapatkan pengalaman komunikasi yang optimal sesuai dengan kondisi jaringan. 2. **Pelaporan Umpan Balik** Setelah memantau kualitas saluran, UE mengirimkan laporan umpan balik kepada eNodeB mengenai kondisi saluran yang diterimanya. Laporan ini mencakup informasi tentang CQI, yang menggambarkan kualitas saluran di sisi UE. Umpan balik ini dilakukan secara periodik dan membantu eNodeB untuk mengambil keputusan yang tepat mengenai skema modulasi dan pengkodean yang akan digunakan untuk transmisi data selanjutnya. Umpan balik yang cepat dan akurat sangat penting dalam lingkungan jaringan yang dinamis seperti LTE, di mana kualitas saluran bisa berubah dalam waktu singkat karena faktor seperti interferensi, mobilitas, atau cuaca. 3. **Penyesuaian Skema Modulasi dan Pengkodean** Berdasarkan laporan CQI yang diterima, eNodeB menyesuaikan Modulation and Coding Scheme (MCS) untuk setiap pengguna. Pengaturan ini dilakukan agar transmisi data dapat berjalan secara efisien dan handal sesuai dengan kondisi saluran. Jika kualitas saluran baik, eNodeB akan memilih skema modulasi dengan orde yang lebih tinggi, seperti 64-QAM, untuk meningkatkan throughput dan efisiensi data. Sebaliknya, jika kondisi saluran buruk, eNodeB akan menggunakan skema modulasi dengan orde lebih rendah, seperti QPSK, yang lebih tahan terhadap kesalahan. Selain itu, tingkat pengkodean juga disesuaikan untuk menjaga keseimbangan antara kecepatan data dan tingkat kesalahan, dengan pengkodean yang lebih kuat digunakan pada kondisi saluran yang lebih buruk. Sumber: https://www.researchgate.net/publication/274573467_Adaptive_Modulation_and_Coding_for_LTE_Wireless_Communication ### 7.2 Proses Implementasi 1. **CQI Mapping** Setelah UE melaporkan nilai CQI, eNodeB menggunakan CQI Mapping untuk menentukan skema modulasi dan pengkodean yang sesuai. Tabel mapping CQI-MCS digunakan untuk memetakan setiap nilai CQI ke dalam skema modulasi dan tingkat pengkodean tertentu. Misalnya, jika CQI yang dilaporkan rendah (1-3), eNodeB akan memilih QPSK dengan tingkat pengkodean rendah untuk memberikan perlindungan terhadap kesalahan. Sebaliknya, jika CQI tinggi (9-15), eNodeB akan memilih 64-QAM dengan tingkat pengkodean yang lebih tinggi untuk memaksimalkan throughput. Proses ini memastikan bahwa transmisi data dapat disesuaikan dengan kondisi saluran yang terus berubah, sehingga efisiensi dan kualitas jaringan dapat terjaga. 2. **Dynamic Link Adaptation** Dynamic Link Adaptation adalah mekanisme di mana eNodeB secara real-time menyesuaikan parameter transmisi berdasarkan fluktuasi kondisi saluran. Dengan mengamati perubahan CQI yang diterima dari UE, eNodeB dapat memilih skema modulasi dan pengkodean yang lebih sesuai, bahkan dalam kondisi saluran yang sangat berubah-ubah. Pendekatan adaptif ini membantu menghindari kehilangan data atau retransmisi yang tidak perlu. Dynamic link adaptation juga bekerja untuk meminimalkan penggunaan daya dan interferensi antar pengguna, sehingga memberikan pengalaman jaringan yang lebih baik secara keseluruhan. 3. **Scheduling Resource Blocks** AMC bekerja bersama dengan scheduling untuk mengalokasikan resource blocks (RB) secara efisien kepada UE. Di LTE, eNodeB bertanggung jawab untuk menjadwalkan alokasi sumber daya, yang mencakup pengaturan waktu dan frekuensi untuk transmisi data. Berdasarkan kualitas saluran yang dilaporkan oleh CQI, eNodeB akan menyesuaikan jumlah RB yang diberikan kepada setiap UE. Pengguna dengan saluran yang lebih baik akan diberikan lebih banyak RB untuk memaksimalkan throughput, sementara pengguna dengan saluran yang lebih buruk akan diberikan lebih sedikit RB untuk mengurangi kemungkinan kesalahan transmisi. Hal ini memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih efisien, menjaga keseimbangan beban jaringan, dan meningkatkan performa keseluruhan. Sumber: https://www.researchgate.net/publication/274573467_Adaptive_Modulation_and_Coding_for_LTE_Wireless_Communication --- ## 8 LTE Resource Block ![Desain tanpa judul (2)](https://hackmd.io/_uploads/ByPtMj7Oke.png) Sumber : https://www.researchgate.net/figure/The-Resource-Block-in-LTE_fig1_262373991 ### 8.1 Pengertian Resource Block (RB) adalah unit dasar alokasi sumber daya dalam LTE yang mencakup domain waktu dan frekuensi. Satu RB terdiri dari 12 subcarrier dalam domain frekuensi dengan lebar masing-masing subcarrier sebesar 15 kHz, sehingga total lebar frekuensi per RB adalah 180 kHz. Dalam domain waktu, satu RB mencakup satu slot (0,5 ms), yang berisi 7 OFDM symbols pada normal cyclic prefix (CP). Struktur ini menjadikan RB sebagai blok penyusun utama untuk alokasi spektrum dalam jaringan LTE Sumber: https://www.3gpp.org/ftp/tsg_ran/WG1_RL1/TSGR1_102-e/Inbox/drafts/6.2.1/102-e-LTE-eMTC5-04/CR/Draft%20R1-2007308%20Multi-TB%20scheduling%20and%20PUR%20spanning%20PUSCH%20transmission%20in%20LTE-MTC.docx ## 8.2 Representasi Resource Grid Dalam LTE, resource block diatur dalam resource grid, yang merupakan representasi dua dimensi dari domain frekuensi dan waktu. Setiap resource block terdiri dari 84 resource elements (REs) dalam mode normal CP, dengan setiap RE mencakup satu subcarrier dan satu OFDM symbol. Resource grid digunakan untuk mengatur alokasi sumber daya secara efisien bagi data pengguna dan informasi kontrol. Sumber: https://www.3gpp.org/ftp/tsg_ran/WG1_RL1/TSGR1_102-e/Inbox/drafts/6.2.1/102-e-LTE-eMTC5-04/CR/Draft%20R1-2007308%20Multi-TB%20scheduling%20and%20PUR%20spanning%20PUSCH%20transmission%20in%20LTE-MTC.docx ### 8.3 Jumlah Resource Block Jumlah RB dalam suatu bandwidth LTE tergantung pada lebar pita frekuensi yang digunakan. Sebagai contoh, bandwidth 1.4 MHz memiliki 6 RB, sedangkan bandwidth 20 MHz memiliki 100 RB. Beberapa RB digunakan untuk guard band, sehingga tidak semua resource block tersedia untuk transmisi data. Sumber: https://www.3gpp.org/ftp/tsg_ran/WG1_RL1/TSGR1_102-e/Inbox/drafts/6.2.1/102-e-LTE-eMTC5-04/CR/Draft%20R1-2007308%20Multi-TB%20scheduling%20and%20PUR%20spanning%20PUSCH%20transmission%20in%20LTE-MTC.docx ### 8.4 Alokasi Dinamis Resource Block Alokasi RB dilakukan secara dinamis oleh scheduler di eNodeB berdasarkan kebutuhan pengguna dan kondisi saluran. Scheduler menggunakan informasi seperti Channel Quality Indicator (CQI) untuk menentukan RB mana yang dialokasikan kepada setiap pengguna. Alokasi dinamis ini memungkinkan efisiensi spektral yang lebih tinggi dengan mempertimbangkan prioritas pengguna dan kondisi jaringan. Sumber: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/78/1/012016 ### 8.5 Penggunaan Resource Block Resource block digunakan untuk berbagai tujuan, seperti transmisi data pada Physical Downlink Shared Channel (PDSCH) atau uplink pada Physical Uplink Shared Channel (PUSCH). Selain itu, sebagian RB dialokasikan untuk informasi kontrol (PDCCH) dan reference signals yang digunakan untuk estimasi saluran dan sinkronisasi. Sumber: https://www.3gpp.org/ftp/tsg_ran/WG1_RL1/TSGR1_102-e/Inbox/drafts/6.2.1/102-e-LTE-eMTC5-04/CR/Draft%20R1-2007308%20Multi-TB%20scheduling%20and%20PUR%20spanning%20PUSCH%20transmission%20in%20LTE-MTC.docx ### 8.6 Perhitungan Kapasitas Resource Block Kapasitas data dalam satu RB bergantung pada jumlah resource elements (REs), skema modulasi, dan coding rate yang digunakan. Misalnya, untuk 64-QAM (6 bits per symbol) dengan coding rate 3/4, kapasitas RB dihitung sebagai 84 RE × 6 bits × 0,75 = 378 bits. Kapasitas ini bervariasi berdasarkan kondisi saluran dan pengaturan modulasi. Sumber: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/78/1/012016 ### 8.7 Manajemen Resource Block Manajemen resource block mencakup frequency reuse untuk meminimalkan interferensi antar sel dan mekanisme scheduling untuk mengalokasikan RB secara efisien. Scheduler memberikan prioritas lebih tinggi kepada pengguna dengan CQI yang lebih baik untuk meningkatkan throughput jaringan secara keseluruhan. Sumber: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/78/1/012016 ### 8.8 Keunggulan dan Tantangan Resource Block Keunggulan RB terletak pada fleksibilitasnya untuk mendukung berbagai layanan, dari data throughput tinggi hingga komunikasi real-time. Namun, tantangan tetap ada, seperti interferensi antar sel di jaringan padat dan kompleksitas alokasi RB secara real-time oleh scheduler di eNodeB. Sumber: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/78/1/012016 --- ## 9. Handover in LTE ![image](https://hackmd.io/_uploads/H1CwmjQO1x.png) Sumber: https://www.techplayon.com/x2-handover-call-flow-in-4g-lte/ ### 9.1 Jenis Handover dalam LTE 1. **Intra-Frequency Handover** Intra-frequency handover adalah jenis handover dalam jaringan LTE yang terjadi di dalam satu frekuensi atau carrier yang sama. Handover ini dilakukan ketika UE berpindah dari satu sel ke sel lain pada frekuensi yang sama untuk menjaga kualitas layanan dan konektivitas yang mulus. Proses ini memanfaatkan komunikasi langsung antara eNodeB melalui X2 interface untuk memastikan latensi rendah selama transisi. 2. **Inter-Frequency Handover** Inter-frequency handover adalah jenis handover yang melibatkan perpindahan komunikasi UE antar sel dengan frekuensi atau carrier yang berbeda dalam jaringan LTE. Proses ini penting dalam jaringan heterogen dengan berbagai frekuensi, seperti antara sel makro dan mikro. Inter-frequency handover membutuhkan pengukuran sinyal yang akurat pada frekuensi target untuk memastikan UE berpindah ke sel dengan sinyal terbaik, biasanya dengan memanfaatkan event A4 dan A5. 3. **Inter-RAT Handover** Inter-RAT (Radio Access Technology) handover adalah proses perpindahan UE antar teknologi akses radio yang berbeda, seperti dari LTE ke 3G (UMTS), 2G (GSM), atau bahkan Wi-Fi. Handover ini penting untuk menjaga konektivitas ketika LTE tidak tersedia atau jaringan lain menawarkan kualitas yang lebih baik. Proses ini melibatkan koordinasi antara jaringan LTE dan teknologi target, dengan pembaruan jalur data dan kontrol melalui elemen inti jaringan. Sumber: https://techlteworld.com/handover-in-lte/ ### 9.2 Prosedur Handover 1. **Tahap Persiapan** Tahap ini dimulai dengan eNodeB sumber yang memerintahkan UE untuk melakukan pengukuran sinyal dari sel target. UE melakukan pengukuran seperti RSRP (Reference Signal Received Power) dan RSRQ (Reference Signal Received Quality), kemudian melaporkannya kembali ke source eNodeB. Berdasarkan laporan ini, source eNodeB memutuskan apakah handover diperlukan, dengan mempertimbangkan kondisi sinyal sel target dan metrik seperti hysteresis dan time-to-trigger. 2. **Tahap Eksekusi** Pada tahap eksekusi, source eNodeB mengirim permintaan handover ke target eNodeB melalui X2 atau S1 interface. Setelah target eNodeB menerima dan memproses permintaan, source eNodeB mengirim "Handover Command" ke UE, yang berisi parameter untuk menyinkronkan dengan sel target. UE memutuskan koneksi dengan source eNodeB dan menyambung ke target eNodeB, sementara data yang belum terkirim diteruskan melalui data forwarding. 3. **Tahap Finalisasi** Setelah UE berhasil terhubung dengan target eNodeB, target eNodeB memberitahu MME (Mobility Management Entity) untuk memperbarui jalur data ke target. Pada saat yang sama, resource pada source eNodeB dilepaskan. Proses ini memastikan transisi koneksi yang lancar tanpa kehilangan data, sehingga pengalaman pengguna tetap opt Sumber: https://www.telecomtrainer.com/how-does-lte-manage-handover-preparation-execution-and-completion-phases/ ### 9.3. Protokol dan Interface dalam Handover 1. **X2 Interface** X2 interface memungkinkan komunikasi langsung antara source eNodeB dan target eNodeB. Protokol ini dirancang untuk mengurangi latensi selama handover dengan menghindari keterlibatan elemen inti jaringan. X2 interface juga mendukung fitur seperti data forwarding untuk memastikan tidak ada data yang hilang selama proses handover. Sumber: https://www.techplayon.com/x2-handover-call-flow-in-4g-lte/#google_vignette 2. **S1 Interface** S1 interface digunakan ketika handover melibatkan elemen inti jaringan, seperti MME atau SGW (Serving Gateway). Interface ini biasanya digunakan untuk inter-RAT handover, di mana jalur data dan kontrol harus diperbarui melalui jaringan inti. Meskipun memiliki latensi yang lebih tinggi dibanding X2, S1 interface memungkinkan fleksibilitas untuk mendukung interoperabilitas antar teknologi. Sumber: https://www.cablefree.net/wirelesstechnology/4glte/lte-s1-interface/ ### 9.4 Pengukuran Kualitas Sinyal untuk Handover 1. **RSRP (Reference Signal Received Power)** RSRP adalah metrik utama yang digunakan untuk mengukur kekuatan sinyal referensi yang diterima oleh UE. Pengukuran ini membantu menentukan apakah sinyal dari sel target lebih kuat dibanding sel sumber, yang menjadi salah satu kriteria utama untuk memutuskan handover. 2. **RSRQ (Reference Signal Received Quality)** RSRQ mengevaluasi kualitas sinyal yang diterima dengan mempertimbangkan interferensi dan noise. Parameter ini digunakan untuk melengkapi pengukuran RSRP, terutama di lingkungan dengan interferensi tinggi, untuk memastikan bahwa sel target memiliki kualitas sinyal yang cukup baik. 3. **SINR (Signal to Interference plus Noise Ratio)** SINR adalah rasio kekuatan sinyal terhadap interferensi dan noise. Parameter ini memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi saluran dan membantu jaringan memutuskan apakah handover diperlukan untuk meningkatkan kualitas layanan. Sumber: Modul Study Group --- ### 5. Tantangan dalam Handover 1. **Ping-pong Handover** Ping-pong handover terjadi ketika UE terus berpindah bolak-balik antara dua sel akibat parameter pengukuran yang tidak stabil. Fenomena ini meningkatkan latensi, beban jaringan, dan konsumsi daya UE, sehingga perlu diminimalkan melalui pengaturan parameter seperti hysteresis dan time-to-trigger. 2. **Latency** Latensi dalam handover dapat terjadi selama data forwarding atau sinkronisasi ulang dengan sel target. Meskipun LTE dirancang untuk meminimalkan latensi, faktor-faktor seperti interferensi dan kepadatan jaringan dapat menyebabkan keterlambatan sementara. 3. **Inter-RAT Handover** Inter-RAT handover membutuhkan koordinasi yang kompleks antara LTE dan teknologi lain seperti UMTS atau GSM. Proses ini mencakup sinkronisasi ulang dan pengaturan ulang sumber daya, yang dapat memperpanjang durasi handover. Sumber: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/78/1/012016 --- ### 9.6 Optimasi Handover 1. **Hysteresis Threshold** Hysteresis adalah margin tambahan yang diterapkan pada kriteria pemicu handover untuk mencegah ping-pong handover. Dengan menambahkan threshold ini, UE tidak langsung berpindah ke sel target meskipun sinyal target lebih kuat dalam waktu singkat. 2. **Time-to-Trigger (TTT)** TTT menentukan waktu minimum di mana kondisi sinyal buruk harus bertahan sebelum handover dipicu. Pengaturan TTT membantu mengurangi handover yang tidak perlu di lingkungan dengan fluktuasi sinyal tinggi. 3. **Carrier Aggregation** Carrier aggregation memungkinkan UE menggunakan beberapa frekuensi secara bersamaan untuk meningkatkan stabilitas sinyal selama handover. Teknik ini juga membantu meningkatkan throughput keseluruhan selama transisi antar sel. Sumber: https://upcommons.upc.edu/bitstream/handle/2099.1/21093/LTE%2BHandover%2BPerformance%2BEvaluation.pdf%3Bjsessionid=2CFED6A61BF7B2D468737E9C22F215C8?sequence=4 --- ### 9.7 Keunggulan Handover dalam LTE Handover dalam LTE menawarkan efisiensi spektral tinggi dengan memanfaatkan protokol X2 dan S1 interface. Teknologi ini dirancang untuk meminimalkan latensi selama proses transisi, memungkinkan pengguna tetap mendapatkan pengalaman layanan yang mulus. Selain itu, interoperabilitas LTE dengan teknologi akses radio lain memastikan konektivitas yang andal bahkan di area dengan cakupan LTE terbatas. --- ## 10. LTE Channels (Physical, Logic, Transport) ![Desain tanpa judul (4)](https://hackmd.io/_uploads/HJpf8hQ_yx.png) Sumber: https://www.techplayon.com/2411-2/ ### 10.1 Physical Channels 1. **Physical Downlink Shared Channel (PDSCH)** PDSCH adalah saluran utama di downlink yang digunakan untuk mentransmisikan data pengguna dan sinyal kontrol dari eNodeB ke UE. Saluran ini mengangkut data transport channel seperti DL-SCH dan mendukung berbagai skema modulasi seperti QPSK, 16-QAM, dan 64-QAM. Keandalan PDSCH dijamin dengan penggunaan teknik HARQ (Hybrid Automatic Repeat Request). 2. **Physical Uplink Shared Channel (PUSCH)** PUSCH adalah saluran uplink utama untuk transmisi data pengguna dari UE ke eNodeB. Saluran ini membawa data dari transport channel UL-SCH dan mendukung berbagai skema modulasi, seperti QPSK dan 16-QAM. PUSCH juga memungkinkan multiplexing data dan informasi kontrol seperti CQI. * 3. **Physical Downlink Control Channel (PDCCH)** PDCCH bertanggung jawab untuk mengirimkan informasi kontrol terkait alokasi sumber daya downlink dan uplink, seperti alokasi resource block, skema modulasi, dan parameter HARQ. Saluran ini memainkan peran penting dalam manajemen sumber daya jaringan. 4. **Physical Uplink Control Channel (PUCCH)** PUCCH digunakan oleh UE untuk mentransmisikan informasi kontrol uplink, seperti HARQ ACK/NACK, CQI, dan Scheduling Request (SR). Saluran ini memberikan cara komunikasi yang efisien untuk sinyal kontrol tanpa menggunakan resource block dari PUSCH. 5. **Physical Broadcast Channel (PBCH)** PBCH digunakan untuk menyiarkan Master Information Block (MIB) kepada semua UE di sel. Informasi dalam MIB mencakup parameter dasar seperti bandwidth sistem dan timing frame. PBCH memastikan UE dapat memahami konfigurasi dasar jaringan LTE. 6. **Physical Random Access Channel (PRACH)** PRACH digunakan oleh UE untuk memulai akses jaringan melalui prosedur random access. PRACH memungkinkan UE untuk meminta sumber daya uplink secara efisien dalam kondisi jaringan yang sibuk atau saat pertama kali terhubung. Sumber: https://repository.ittelkom-pwt.ac.id/127/7/BAB%20II.pdf ### 10.2 Logical Channels 1. **Broadcast Control Channel (BCCH)** BCCH adalah logical channel yang mentransmisikan informasi sistem penting dari eNodeB ke UE. Informasi ini mencakup konfigurasi jaringan, seperti parameter cell reselection dan konfigurasi paging, yang dibutuhkan untuk akses jaringan. 2. **Paging Control Channel (PCCH)** PCCH digunakan untuk mentransmisikan pesan paging dari eNodeB ke UE. Pesan ini memberi tahu UE tentang panggilan masuk atau pesan data baru saat UE berada dalam mode idle. 3. **Common Control Channel (CCCH)** CCCH adalah logical channel yang digunakan untuk komunikasi kontrol umum antara UE dan jaringan, khususnya dalam prosedur akses awal sebelum alokasi dedicated channel. 4. **Dedicated Traffic Channel (DTCH)** DTCH adalah saluran logical yang digunakan untuk mentransmisikan data pengguna. Saluran ini dapat digunakan baik di uplink maupun downlink, tergantung pada kebutuhan komunikasi. 5. **Dedicated Control Channel (DCCH)** DCCH digunakan untuk mentransmisikan informasi kontrol khusus untuk sesi UE tertentu. Saluran ini penting untuk manajemen koneksi dan pemeliharaan kualitas layanan. Sumber: Sumber: https://repository.ittelkom-pwt.ac.id/127/7/BAB%20II.pdf ### 10.3 Transport Channels 1. **Broadcast Channel (BCH)** BCH digunakan untuk mentransmisikan Master Information Block (MIB) melalui PBCH. Saluran ini menyampaikan informasi dasar seperti bandwidth sistem, yang memungkinkan UE untuk memahami konfigurasi awal jaringan. 2. **Downlink Shared Channel (DL-SCH)** DL-SCH adalah transport channel utama untuk mengirimkan data pengguna dan sinyal kontrol di downlink. Saluran ini mendukung pengaturan adaptif seperti modulasi, coding rate, dan HARQ untuk memastikan efisiensi transmisi. 3. **Paging Channel (PCH)** PCH mengangkut pesan paging melalui PCCH untuk memberitahu UE tentang aktivitas jaringan yang relevan, seperti panggilan masuk atau notifikasi data. 4. **Uplink Shared Channel (UL-SCH)** UL-SCH adalah saluran utama untuk pengiriman data pengguna dan sinyal kontrol dari UE ke eNodeB. Saluran ini mendukung teknik seperti HARQ dan pengkodean adaptif untuk memastikan transmisi uplink yang andal. 5. **Random Access Channel (RACH)** RACH digunakan dalam prosedur akses awal, memungkinkan UE untuk meminta sumber daya uplink sebelum alokasi dedicated resource block. Sumber: https://repository.ittelkom-pwt.ac.id/127/7/BAB%20II.pdf ### 10.4 Hubungan antara Physical, Logical, dan Transport Channels Logical channels menentukan jenis informasi yang akan ditransmisikan, seperti data pengguna atau informasi kontrol. Data dari logical channels kemudian dipetakan ke transport channels, yang mendefinisikan cara data dikemas untuk transmisi. Akhirnya, transport channels diterjemahkan ke physical channels di lapisan fisik untuk pengiriman melalui antarmuka radio. Misalnya, Dedicated Traffic Channel (DTCH) dipetakan ke Downlink Shared Channel (DL-SCH), yang kemudian ditransmisikan melalui Physical Downlink Shared Channel (PDSCH). Sumber: https://repository.ittelkom-pwt.ac.id/127/7/BAB%20II.pdf ### 10.5 Fungsi Setiap Channel Logical channels memastikan data diorganisasikan sesuai dengan jenisnya (kontrol atau data pengguna), transport channels mengemas data sesuai dengan kebutuhan jaringan, dan physical channels menyediakan lapisan dasar untuk pengiriman data aktual melalui frekuensi radio. Ketiganya bekerja bersama untuk menjamin efisiensi komunikasi, keandalan, dan pengalaman pengguna yang optimal. Sumber: https://repository.ittelkom-pwt.ac.id/127/7/BAB%20II.pdf --- ## 11. Performance Metrics of 4G LTE (Data Rate, Sum Rate, SE, EE) ### 11.1 Pengertian Metrik kinerja LTE 4G adalah parameter penting yang digunakan untuk mengevaluasi performa jaringan dalam berbagai aspek, seperti kapasitas data, penggunaan spektrum, dan efisiensi energi. Berikut adalah penjelasan rinci dan teknis mengenai empat metrik utama: Data Rate, Sum Rate, Spectral Efficiency, dan Energy Efficiency. ### 11.2 Data Rate 1. **Definisi** Data rate adalah kecepatan di mana data dapat dikirimkan melalui jaringan dalam satuan bit per detik (bps). Dalam LTE, data rate sangat dipengaruhi oleh bandwidth sistem, skema modulasi, pengkodean, dan jumlah antena yang digunakan dalam teknologi MIMO (Multiple Input Multiple Output). 2. **Faktor yang Mempengaruhi** **Bandwidth Sistem** LTE mendukung bandwidth mulai dari 1.4 MHz hingga 20 MHz. Semakin besar bandwidth, semakin tinggi data rate yang dapat dicapai. **Skema Modulasi** Modulasi seperti QPSK, 16-QAM, dan 64-QAM menentukan jumlah bit yang dapat dikirimkan per simbol. 64-QAM, misalnya, dapat mentransmisikan 6 bit per simbol. **MIMO** Teknologi MIMO memungkinkan pengiriman data secara paralel melalui beberapa antena, meningkatkan throughput secara signifikan. Sumber: https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/files/92655/resume/analisis-kinerjapenggunaan-teknik-modulasi-adaptif-dan-mimo-adaptif-pada-lte-arah-uplink-dengan-berbagai-kecepatan-user.pdf ### 11.3 Sum Rate 1. **Definisi** Sum rate adalah total throughput yang dihasilkan oleh semua pengguna dalam suatu sel atau sistem. Ini menggambarkan kapasitas agregat jaringan untuk melayani banyak pengguna secara simultan. 2. **Faktor yang Mempengaruhi** **Jumlah Pengguna Aktif** Sum rate meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna hingga batas kapasitas jaringan. **Interferensi Antar Sel** Interferensi dapat mengurangi sum rate secara keseluruhan. **Scheduling dan Resource Allocation** Algoritma penjadwalan seperti Proportional Fair atau Round Robin memengaruhi alokasi sumber daya untuk setiap pengguna. Sumber: https://journal.unismuh.ac.id/index.php/vertex/article/download/4014/2726 ### 11.4 Spectral Efficiency 1. **Definisi** Spectral efficiency (efisiensi spektral) mengukur seberapa efisien spektrum radio digunakan untuk mentransmisikan data. Dinyatakan dalam satuan bps/Hz, metrik ini menggambarkan jumlah data yang dapat dikirimkan per unit bandwidth. 2. **Faktor yang Mempengaruhi** **Modulasi dan Pengkodean** Skema modulasi orde tinggi (seperti 64-QAM) meningkatkan efisiensi spektral. **Teknologi MIMO** MIMO memungkinkan peningkatan efisiensi spektral dengan memanfaatkan multipath propagation. **Kondisi Saluran** SINR (Signal-to-Interference-plus-Noise Ratio) yang tinggi meningkatkan efisiensi spektral. Sumber: https://core.ac.uk/download/pdf/235050184.pdf ### 11.5 Energy Efficiency 1. **Definisi** Energy efficiency (efisiensi energi) adalah metrik yang mengukur jumlah data yang dapat ditransmisikan per unit konsumsi energi. Dalam jaringan LTE, efisiensi energi penting untuk mengurangi biaya operasional dan dampak lingkungan. 2. **Faktor yang Mempengaruhi** **Penggunaan Daya Base Station** Konsumsi daya dari antena dan perangkat keras lainnya memengaruhi efisiensi energi. **Load Traffic** Saat traffic rendah, efisiensi energi cenderung menurun karena base station tetap beroperasi pada daya minimum. **Teknologi Hemat Energi** Fitur seperti Discontinuous Reception (DRX) dan Enhanced Inter-Cell Interference Coordination (eICIC) membantu meningkatkan efisiensi energi. Sumber: https://www.researchgate.net/publication/323962448_Efisiensi_Energi_Pada_Jaringan_Seluler_Dengan_Teknik_Base-Station_Sleep-Mode_Studi_Literatur