Ini adalah narasi final yang komprehensif, mengalir, dan mudah dipahami untuk menjelaskan **Mental Models** berdasarkan materi kuliah Don Norman (1983). Narasi ini dirancang agar Anda bisa menjelaskannya dengan sangat meyakinkan, baik saat presentasi maupun diskusi. --- ### **Judul: Mental Models – Menjembatani Pikiran Manusia dan Otak Mesin** #### **1. Pendahuluan: Apa itu Mental Model? (Slide 10-11)** Bayangkan Mental Model sebagai sebuah **"Simulator Internal"** di dalam otak manusia. Saat kita melihat sebuah alat—entah itu ATM, aplikasi ChatGPT, atau bahkan gagang pintu—otak kita secara otomatis menjalankan simulasi tentang bagaimana cara kerjanya. Namun, di sinilah masalah besar sering terjadi (**Slide 11**). Ada jurang komunikasi antara dua pihak: * **Desainer** punya **Conceptual Model** (rencana logis bagaimana sistem bekerja). * **Pengguna** punya **Mental Model** (asumsi mereka tentang bagaimana sistem bekerja). Keduanya jarang sekali benar-benar nyambung. Tugas utama kita sebagai desainer adalah memastikan "apa yang kita pikirkan" sama dengan "apa yang mereka tangkap". #### **2. Realitas Manusia: Kita Tidak Sempurna (Slide 12-14)** Don Norman mengamati bahwa otak manusia itu tidak bekerja secara matematis, melainkan secara praktis dan sering kali "berantakan": * **Kita Tidak Butuh Tahu Segalanya (Slide 12):** Pengguna tidak peduli bagaimana *database* ATM bekerja. Mereka cuma peduli: "Masukkan kartu, pencet PIN, uang keluar." Jika sistem terlalu banyak menampilkan teknis, Mental Model user akan *overload*. * **Otak Kita Punya Batas "Ram" (Slide 13):** Manusia tidak bisa memikirkan 10 langkah rumit sekaligus. Itulah kenapa sistem yang punya banyak syarat (*if-else*) sering membuat user melakukan kesalahan. * **Mental Model itu Rapuh (Slide 14):** Kita gampang lupa detail kalau jarang pakai. Selain itu, kita sering bingung kalau ada dua alat yang mirip. Contoh klasiknya: Menukar tombol remote AC dengan remote TV hanya karena bentuknya sama. #### **3. Psikologi Pengguna: Takhayul dan "Kemalasan" Berpikir (Slide 15-16)** Dua perilaku unik manusia yang wajib dipahami setiap desainer AI: * **Perilaku Takhayul (Slide 15):** Karena kita tidak bisa melihat "otak" mesin, kita sering melakukan aksi ekstra agar merasa aman. Contoh: Menekan tombol lift berkali-kali atau menekan tombol *Clear* kalkulator 5 kali agar yakin "bersih". User melakukan ini karena mereka tidak percaya sepenuhnya pada sistem. * **Prinsip Pelit Pikiran (Parsimony - Slide 16):** Ini adalah hukum alam—**manusia lebih suka capek fisik daripada capek mikir.** User lebih rela mengeklik menu 10 kali daripada harus menghafal satu perintah *shortcut* yang rumit. Mengapa? Karena berpikir butuh energi lebih besar daripada menggerakkan jari. #### **4. Solusinya: System Image sebagai Jembatan (Slide 17)** Ini adalah bagian terpenting (**Slide 17**). Desainer dan Pengguna tidak pernah bertemu langsung. Komunikasi mereka hanya terjadi lewat satu hal: **System Image**. Apapun yang user lihat—tampilan layar, ikon, bunyi *bip*, hingga buku panduan—itulah yang akan membangun Mental Model mereka. Jika *System Image*-nya buruk (misal: tombol "Hapus" warnanya biru, bukan merah), user akan membangun model mental yang salah, dan akhirnya terjadi bencana/error. #### **5. Penutup & Tantangan Masa Depan (Slide 18 & 46)** Sebuah desain dianggap sukses jika memenuhi 3 kriteria (**Slide 18**): Mudah dipelajari (*Learnability*), fungsinya benar (*Functionality*), dan nyaman di memori manusia (*Usability*). Namun, tantangan terbesar kita di tahun 2025 adalah **Black Box AI (Slide 46)**. Norman bicara tentang sistem yang bisa dipahami logic-nya. Sekarang, bagaimana kita bisa membangun Mental Model yang benar jika AI sendiri seringkali tidak bisa menjelaskan kenapa dia mengambil keputusan itu? **Misi Kita:** Lewat mata kuliah ini, kita harus mendesain antarmuka AI yang bisa "bercerita" (transparan), agar pengguna tidak lagi menebak-nebak lewat takhayul, melainkan punya model mental yang akurat dan penuh kepercayaan. --- ### **Ringkasan untuk Anda Ingat:** > *"Mental Model adalah simulasi di otak user. User itu tidak butuh tahu semua (incomplete), tidak suka mikir berat (parsimonious), dan sering ragu (superstitious). Jembatan Anda adalah System Image (UI). Jika UI-nya jelas, Mental Model-nya benar, maka interaksinya sempurna."*